© 2026 Bursa Rakyat

Kembali ke Beranda
Market31 Mei 2026

Transaksi BEI Terbang 30% — Siapa yang Lagi Borong dan Lempar di Balik Layar?

AD
Oleh: Aditya ArgadinataDipublikasikan pada 31 Mei 2026
Transaksi BEI Terbang 30% — Siapa yang Lagi Borong dan Lempar di Balik Layar?

Lonjakan di Tengah Ketidakpastian

Pekan terakhir Mei 2026 menjadi salah satu pekan paling sibuk di Bursa Efek Indonesia. Bukan hanya karena IHSG yang masih bergerak volatile, melainkan karena nilai transaksi harian yang tiba-tiba terbang 30,2% dibanding pekan sebelumnya — menembus rata-rata Rp15,8 triliun per hari. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam tiga bulan terakhir, mengindikasikan bahwa likuiditas pasar sedang bergerak deras.

Namun, pertanyaannya: siapa yang berada di balik layar? Apakah ini sinyal bullish yang legitimate atau sekadar aksi window dressing akhir bulan?

30% dalam Seminggu: Fakta di Balik Angka

Menurut data dari Bisnis.com dan IDX, rata-rata nilai transaksi harian pada periode 25-29 Mei 2026 tercatat Rp15,8 triliun — melonjak 30,2% dari pekan sebelumnya (18-22 Mei) yang hanya Rp12,1 triliun. Sumber lain dari CNBC Indonesia bahkan mencatat puncak transaksi pada 28 Mei yang menembus Rp18,7 triliun — level tertinggi sejak awal Maret 2026.

Beberapa faktor pendorong lonjakan ini antara lain:

  • Rilis data PDB Indonesia Q1-2026 yang tumbuh 5,1% (yoy) — di atas konsensus pasar
  • Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang mendorong risk-on sentiment global
  • Aksi window dressing menjelang akhir bulan oleh manajer investasi dan institusi
  • Rotasi portofolio asing dari sektor defensif ke siklikal

Siapa yang Borong? BBCA, TLKM, dan BMRI Jadi Primadona

Data net foreign flow selama pekan 25-29 Mei 2026 menunjukkan pola yang menarik. Meskipun secara akumulasi bulanan asing masih net sell sebesar -Rp2,1 triliun (per 30 Mei), dalam sepekan terakhir terjadi pembalikan arah dengan net buy Rp450 miliar. Artinya, asing mulai masuk kembali setelah berminggu-minggu keluar.

Berikut saham-saham yang paling banyak diborong asing (25-29 Mei):

  • BBCA (Bank Central Asia): net buy Rp420 miliar
  • TLKM (Telkom Indonesia): net buy Rp330 miliar
  • BMRI (Bank Mandiri): net buy Rp195 miliar
  • ADRO (Adaro Energy): net buy Rp88 miliar
  • ITMG (Indo Tambangraya Megah): net buy Rp62 miliar

Pola pembelian ini mengonfirmasi bahwa asing masih sangat menyukai sektor perbankan big cap dan telekomunikasi. BBCA menjadi primadona dengan total net buy sebesar Rp1,2 triliun secara month-to-date (Mei 2026).

Yang Dilepas: ASII Paling Terdiskon, BBRI Tak Luput dari Tekanan

Di sisi lain, aksi jual asing juga tak kalah deras. Saham-saham yang menjadi sasaran jual massal adalah:

  • ASII (Astra International): net sell Rp275 miliar (MTD -Rp1,4 triliun — paling besar)
  • BBRI (Bank Rakyat Indonesia): net sell Rp190 miliar (MTD -Rp980 miliar)
  • UNVR (Unilever Indonesia): net sell Rp105 miliar (MTD -Rp420 miliar)
  • GGRM (Gudang Garam): net sell Rp74 miliar
  • INDF (Indofood Sukses Makmur): net sell Rp51 miliar

Yang mengejutkan, ASII menjadi saham dengan net sell asing terbesar sepanjang Mei 2026, mencapai -Rp1,4 triliun. Ini menunjukkan bahwa investor asing sedang melakukan repositioning besar-besaran dari sektor otomotif dan konsumsi ke sektor perbankan dan energi.

Dua Sisi Mata Uang: Net Buy vs Net Sell yang Tumpang Tindih

Fenomena menarik terjadi pada BBRI. Meskipun secara fundamental bank ini memiliki kinerja yang solid, asing justru melepas Rp980 miliar saham BBRI sepanjang Mei. Hal ini kemungkinan besar terkait dengan aksi profit taking setelah rally BBRI di bulan April, ditambah dengan kekhawatiran terhadap tekanan NIM di segmen mikro.

Sementara itu, aksi borong besar-besaran di BBCA mengindikasikan bahwa asing melihat bank ini sebagai safe haven di tengah ketidakpastian — dengan kapitalisasi pasar yang besar, likuiditas tinggi, dan eksposur korporasi yang lebih selektif.

Angka-angka Kunci Pekan Ini

  • Rata-rata transaksi harian: Rp15,8 triliun (+30,2% WoW)
  • Transaksi tertinggi (28 Mei): Rp18,7 triliun
  • Net foreign mingguan: +Rp450 miliar (berbalik dari -Rp780 miliar)
  • Net foreign MTD Mei: -Rp2,1 triliun
  • IHSG: 7.132 (-0,18% di akhir pekan, +1,2% mingguan)

Apa Artinya bagi Pasar?

Lonjakan transaksi 30% dalam sepekan adalah sinyal yang tidak bisa diabaikan. Ini menunjukkan bahwa minat investor — terutama asing — mulai kembali ke pasar saham Indonesia setelah periode outflow yang panjang.

Namun, perlu dicatat bahwa net foreign secara akumulasi bulanan masih negatif -Rp2,1 triliun. Artinya, pembalikan arah minggu ini baru permulaan. Jika tren net buy asing berlanjut di pekan pertama Juni, ini bisa menjadi konfirmasi bahwa fase terburuk outflow sudah berlalu.

Navigasi Portofolio

Bagi investor ritel, ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari dinamika pekan ini:

  • Ikuti aliran dana asing: BBCA dan TLKM menjadi pilihan utama asing — saham-saham ini cenderung lebih likuid dan memiliki fundamental kuat.
  • Waspadai tekanan jual di BBRI dan ASII: meskipun harga mungkin menarik, tunggu hingga tekanan jual asing mereda sebelum entry.
  • Lonjakan transaksi Rp15,8 triliun/hari menunjukkan likuiditas pasar sedang tinggi — ini adalah kondisi ideal untuk trading jangka pendek.
  • Pantau data net foreign di pekan pertama Juni — jika asing melanjutkan net buy, ini bisa menjadi entry signal untuk posisi medium-term.

Pasar sedang memberikan sinyal, tapi seperti biasa, diperlukan kehati-hatian dan analisis fundamental yang matang sebelum mengambil keputusan investasi.

Bagikan:

Berita Terkait