Kesepakatan Bersejarah di Bawah Satu Atap
Presiden Prabowo Subianto membawa pulang hasil nyata dari kunjungan kenegaraannya ke Prancis: kesepakatan bisnis dan investasi senilai US$3,5 miliar atau sekitar Rp61,25 triliun. Angka ini bukan sekadar seremoni — ia mencerminkan agenda strategis pemerintah di sektor pertahanan, energi, pendidikan, dan pengembangan mineral kritis.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), M. Qodari, memaparkan bahwa kunjungan ini merupakan langkah balasan atas kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Indonesia pada 2025. "Jadwal resmi memang hanya ke Prancis," ujar Qodari dalam konferensi pers di Jakarta.
Yang menarik, pemerintah tidak hanya membidik kerja sama dagang biasa — ada transfer teknologi yang menjadi syarat utama di hampir setiap sektor, terutama pertahanan dan pendidikan STEM.
Empat Pilar Kerja Senilai Rp61 Triliun
1. Kadin-MEDEF: Menuju Perdagangan Tiga Kali Lipat
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama MEDEF International meluncurkan France-Indonesia High-Level Business Council (FI-HLBC), forum dialog tingkat tinggi yang menargetkan peningkatan nilai perdagangan bilateral hingga tiga kali lipat pada 2035 — dari posisi saat ini US$2,6 miliar. Ini bukan target kecil, mengingat perdagangan Indonesia-Prancis saat ini masih kalah jauh dibandingkan dengan mitdag utama Indonesia seperti China dan Jepang.
2. Pertamina-Schlumberger: AI untuk Migas
PT Pertamina menandatangani kerja sama dengan SLB/PT Schlumberger Geophysics Nusantara — raksasa jasa migas global. Cakupannya luas: enhanced oil recovery (EOR), pengembangan migas nonkonvensional, digitalisasi berbasis kecerdasan buatan (AI), serta program penurunan emisi melalui carbon capture and storage (CCS), efisiensi energi, dan pengembangan panas bumi.
Ini menandai langkah konkret Pertamina dalam mentransformasi diri dari perusahaan migas tradisional menjadi perusahaan energi terintegrasi yang tidak hanya mengandalkan minyak dan gas, tetapi juga merambah energi bersih dan teknologi tinggi.
3. Pertamina-TotalEnergies: dari LNG hingga Kilang Hijau
Pertamina juga memperluas kemitraan dengan raksasa energi Prancis, TotalEnergies. Kesepakatan ini mencakup sektor hulu migas, LNG, perdagangan energi, biofuel, energi terbarukan, hingga pengembangan bisnis rendah karbon. Keduanya juga akan menjajaki proyek kilang hijau dan CCS/CCUS — teknologi penangkapan karbon yang menjadi primadona transisi energi global.
4. Danantara-Thales: Pabrik Radar "Made in Indonesia"
Di sektor pertahanan, Danantara melalui PT Len Industri memvalidasi Letter of Intent (LoI) dengan perusahaan pertahanan Prancis, Thales. Isinya strategis: rencana pembangunan pabrik radar "Made in Indonesia", pengembangan tactical data link, sistem komando dan kendali, fasilitas pemeliharaan, serta program pelatihan radar.
Ini sejalan dengan visi pemerintah untuk mencapai kemerdekaan teknologi pertahanan — tidak sekadar membeli alutsista, tetapi juga menguasai teknologinya melalui transfer pengetahuan.
Transfer Teknologi: Syarat Mutlak di Setiap Sektor
Satu benang merah yang mencolok dari semua kesepakatan ini adalah transfer teknologi. Baik di bidang pertahanan (radar Thales), energi (EOR Schlumberger, CCS TotalEnergies), maupun pendidikan STEM — pemerintah secara eksplisit mensyaratkan alih pengetahuan, bukan sekadar pembelian produk jadi.
Pendekatan ini mencerminkan pergeseran strategi dari model "beli dan pakai" menuju "beli, kuasai, dan produksi sendiri". Jika konsisten, ini bisa menjadi blueprint bagi kerja sama internasional Indonesia ke depan.
Catatan untuk Investor
- Kesepakatan Pertamina-Schlumberger dan Pertamina-TotalEnergies bisa menjadi katalis positif bagi sektor migas dan energi terbarukan di bursa
- PT Len Industri (bagian dari Danantara) yang terlibat dalam proyek radar Thales — perhatikan emiten BUMN pertahanan
- Target perdagangan tiga kali lipat via FI-HLBC membuka peluang bagi eksportir Indonesia ke pasar Eropa
- Komitmen transfer teknologi di sektor pertahanan dan energi adalah sinyal positif jangka panjang, meski dampak finansial mungkin baru terasa dalam 2-3 tahun ke depan



