Saham RMKO atau PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk mencatatkan lonjakan signifikan hingga menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) pada perdagangan Selasa, 3 Maret 2026. Pergerakan agresif ini terjadi tepat setelah perseroan mengumumkan rencana aksi korporasi berupa Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue.
Berdasarkan data perdagangan bursa, harga saham RMKO melesat 25 persen menuju level Rp725 per lembar pada penutupan sesi I. Fenomena ini menarik perhatian pelaku pasar mengingat munculnya potensi dilusi kepemilikan saham hingga 29,06 persen bagi pemegang saham eksisting yang tidak mengeksekusi haknya dalam periode yang ditentukan.
Respon Pasar Terhadap Rencana Penambahan Modal RMKO
Lonjakan harga ini mengakhiri tren koreksi yang sempat menekan posisi saham RMKO selama tujuh hari perdagangan berturut-turut. Sebelum momentum rebound hari ini, harga saham emiten kontraktor pertambangan ini sempat mengalami penurunan dari level Rp1.000 pada pertengahan Februari menuju area Rp580.
Volume transaksi pada sesi pertama tercatat mencapai 591 ribu lot dengan nilai perputaran dana sebesar Rp42,2 miliar. Tingginya minat pasar tercermin dari antrean beli (bid) di harga tertinggi yang mencapai hampir 70 ribu lot, menandakan adanya akumulasi atau respon positif investor terhadap prospek permodalan baru perusahaan.
Detail Skema Rights Issue dan Dampak Dilusi
Manajemen perseroan berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 512 juta saham baru. Jumlah tersebut setara dengan hampir sepertiga dari total modal ditempatkan dan disetor penuh saat ini. Dalam keterbukaan informasi, disebutkan bahwa langkah ini diambil untuk memperkuat struktur modal kerja serta mendukung ekspansi operasional di sektor penyewaan alat berat dan jasa pertambangan.
Secara teknis, rights issue dengan skala besar sering kali direspons dengan kehati-hatian karena adanya risiko penurunan persentase kepemilikan. Namun, dari sudut pandang observasi pasar, pelaku pasar tampaknya lebih fokus pada potensi suntikan likuiditas yang diperkirakan mampu mencapai Rp300 miliar jika harga pelaksanaan berada di kisaran harga historis terbaru.
Proyeksi Penggunaan Dana dan Kinerja Operasional
Seluruh dana yang dihimpun melalui aksi korporasi ini, setelah dikurangi biaya emisi, akan dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja. Hal ini dinilai krusial bagi emiten seperti saham RMKO yang bergerak di industri padat modal. Penambahan kapasitas alat berat dan dukungan pendanaan proyek baru diharapkan dapat menjaga keberlanjutan pendapatan di tengah dinamika harga komoditas global.
Kepastian mengenai harga pelaksanaan dan jadwal detil akan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 8 April 2026. Investor biasanya mempertimbangkan rasio harga pelaksanaan terhadap harga pasar untuk menentukan tingkat partisipasi dalam penebusan hak memesan efek tersebut.
Konteks Sektor Pertambangan dan Sentimen Global
Pergerakan harga saham RMKO juga tidak lepas dari kondisi sektor energi dan infrastruktur pertambangan yang menjadi basis utama bisnisnya. Efisiensi operasional dan ketersediaan modal kerja yang kuat menjadi faktor penentu daya saing kontraktor di mata pemilik tambang.
Reaksi pasar yang membawa harga ke batas ARA menunjukkan adanya ekspektasi terhadap perbaikan fundamental jangka panjang melalui penguatan neraca keuangan. Meski demikian, volatilitas pasar tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan, mengingat pergerakan harga saham sering kali mendahului realisasi kinerja keuangan yang tertuang dalam laporan kuartalan mendatang.

