Saham PGEO Jadi Sorotan Usai Laba Turun pada 2025

Saham PGEO menjadi perhatian investor setelah laba Pertamina Geothermal Energy turun pada 2025. Simak kinerja dan prospek emiten energi panas bumi ini.

Kinerja saham PGEO kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah laporan keuangan terbaru menunjukkan penurunan profitabilitas. Dalam laporan keuangan PGEO terbaru, laba PGEO tercatat mengalami penurunan sepanjang 2025 meskipun pendapatan perusahaan masih menunjukkan pertumbuhan.

Pertamina Geothermal Energy sebagai salah satu emiten energi panas bumi terbesar di Indonesia mencatatkan laba bersih sebesar USD137,7 juta pada tahun buku 2025. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan capaian laba pada 2024 yang mencapai sekitar USD160,49 juta.

Penurunan laba PGEO ini terjadi seiring lonjakan sejumlah beban operasional yang menekan marjin keuntungan perusahaan.

Kinerja PGEO 2025

Berdasarkan laporan keuangan PGEO, perusahaan membukukan pendapatan sebesar USD432,73 juta pada 2025. Nilai tersebut meningkat sekitar 6,3 persen dibandingkan pendapatan tahun sebelumnya yang mencapai USD407,12 juta.

Meski pendapatan meningkat, kinerja PGEO 2025 tidak sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan yang solid di sisi profit. Hal ini disebabkan oleh kenaikan beban pokok pendapatan yang cukup signifikan.

Sepanjang 2025, beban pokok pendapatan perusahaan tercatat mencapai USD199,66 juta atau meningkat hampir 19,8 persen secara tahunan. Lonjakan biaya ini menjadi faktor utama yang menekan laba PGEO.

Akibatnya, laba bruto perusahaan tercatat USD233,06 juta pada 2025, turun sekitar 3,1 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya.

Laporan Keuangan PGEO

Jika dilihat lebih dalam dari laporan keuangan PGEO, penurunan juga terlihat pada beberapa indikator profitabilitas lainnya.

Laba usaha perusahaan tercatat sebesar USD205,57 juta, atau turun sekitar 2,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, laba sebelum pajak tercatat USD195,91 juta yang berarti mengalami penurunan sekitar 14,1 persen secara tahunan.

Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan sebesar USD58,25 juta, maka laba PGEO yang dibukukan sepanjang 2025 menjadi USD137,7 juta.

Penurunan ini mencerminkan tekanan pada kinerja operasional meskipun perusahaan masih mampu mempertahankan pertumbuhan pendapatan.

Posisi Keuangan Pertamina Geothermal Energy

Di tengah penurunan laba, kondisi neraca Pertamina Geothermal Energy masih tergolong stabil.

Total ekuitas perusahaan hingga akhir 2025 tercatat mencapai USD2,05 miliar, meningkat dibandingkan posisi tahun sebelumnya yang berada di kisaran USD2,01 miliar.

Sementara itu, total liabilitas perusahaan tercatat sebesar USD988,89 juta, relatif stabil dibandingkan periode sebelumnya.

Total aset perusahaan juga mengalami pertumbuhan tipis menjadi USD3,03 miliar. Selain itu, posisi kas dan setara kas mencapai USD718,5 juta atau meningkat sekitar 9,7 persen dibandingkan posisi pada akhir 2024.

Prospek Saham PGEO

Meskipun laba PGEO mengalami penurunan, prospek jangka panjang saham PGEO masih cukup menarik bagi investor. Hal ini didukung oleh potensi pertumbuhan sektor energi terbarukan di Indonesia.

Sebagai emiten energi panas bumi, Pertamina Geothermal Energy memiliki posisi strategis dalam pengembangan energi bersih dan berkelanjutan. Permintaan energi rendah emisi diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Karena itu, sebagian analis menilai prospek saham PGEO masih cukup positif, terutama dalam jangka panjang seiring dengan ekspansi proyek panas bumi dan meningkatnya perhatian global terhadap energi ramah lingkungan.

Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan kinerja PGEO 2025 serta faktor biaya operasional yang dapat memengaruhi profitabilitas perusahaan.


Disclaimer

Informasi dalam artikel ini bersifat edukasi dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.