Kondisi Pasar Menjelang Ramadan 1447 H
Memasuki momen Ramadan 1447 Hijriah yang jatuh pada 19 Februari 2026, dinamika pasar modal Indonesia menunjukkan fenomena yang cukup unik. Dari sudut pandang observasi pasar, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini masih berada dalam zona koreksi sebesar 4,34 persen secara year to date (ytd) ke level 8.271,77. Kondisi ini diperparah dengan sektor konsumsi non-siklikal (IDXNONCYC) yang juga ikut tertekan sekitar 3,74 persen dalam sebulan terakhir. Meskipun angka-angka tersebut terlihat merah, terdapat anomali yang biasanya terjadi tepat saat bulan puasa dimulai, di mana perilaku belanja masyarakat cenderung meningkat drastis yang seringkali menjadi motor penggerak bagi emiten-emiten terkait.
Data Historis 10 Tahun Terakhir
Jika menilik data statistik dalam satu dekade ke belakang, periode Februari hingga Maret memiliki karakteristik yang kontras bagi sektor konsumsi. Kami mencatat bahwa selama sepuluh tahun terakhir, rata-rata kinerja sektor konsumsi di bulan Februari cenderung lemah dengan probabilitas kenaikan hanya 40 persen. Namun, situasi biasanya berbalik arah ketika memasuki bulan Maret. Secara historis, probabilitas penguatan sektor ini melonjak hingga 75 persen dengan rata-rata kenaikan harga sebesar 0,75 persen. Beberapa analis menilai bahwa pergeseran momentum ini terjadi karena siklus distribusi barang yang mencapai puncaknya di tengah bulan Ramadan hingga menjelang Idulfitri.
Analisis Arus Kas Asing dan Emiten Pilihan
Di tengah volatilitas indeks, aliran dana asing atau net foreign buy mulai terlihat masuk ke beberapa saham konsumer raksasa. Data menunjukkan bahwa PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) mencatat pembelian bersih oleh asing mencapai Rp110,94 miliar dalam satu pekan terakhir, meskipun harganya terkoreksi 8,10 persen secara ytd. Hal ini memberikan gambaran bahwa investor besar mungkin sedang mempertimbangkan valuasi yang lebih murah untuk masuk. Selain itu, emiten seperti Indofood CBP (ICBP) dan Ultrajaya (ULTJ) juga menunjukkan ketahanan dengan akumulasi asing yang konsisten, masing-masing sebesar Rp14,82 miliar dan Rp7,04 miliar. Investor biasanya mempertimbangkan rasio Price to Earnings (PE) yang masih berada di kisaran 13 hingga 17 kali untuk sektor ini sebagai area yang cukup wajar.
| Emiten | Harga | YTD (%) | PE Ratio | Net Foreign (1 Minggu) |
| MYOR | 2.230 | +4,69% | 17,59x | -Rp36,26 Miliar |
| ICBP | 8.025 | -2,13% | 15,50x | +Rp14,82 Miliar |
| ULTJ | 1.655 | +14,93% | 14,15x | +Rp7,04 Miliar |
| AMRT | 1.815 | -8,10% | 24,60x | +Rp110,94 Miliar |
| MAPA | 680 | +1,49% | 13,70x | -Rp6,71 Miliar |
Proyeksi Makro dan Kesimpulan
Melihat kondisi makro ekonomi, inflasi tahunan pada Januari 2026 yang berada di level 3,55 persen menunjukkan bahwa daya beli masyarakat sebenarnya masih terjaga, walaupun terjadi deflasi bulanan tipis sebesar 0,15 persen. Dari sudut pandang observasi pasar, stabilitas nilai tukar rupiah di level 16.862 per USD juga menjadi faktor penentu bagi beban impor bahan baku emiten konsumer. Secara keseluruhan, meskipun IHSG masih tertatih, sektor konsumsi cenderung lebih defensif dibandingkan sektor lainnya. Pola historis yang menunjukkan peluang rebound di bulan Maret memberikan ruang bagi pelaku pasar untuk kembali memperhatikan fundamental masing-masing emiten, terutama mereka yang memiliki eksposur kuat pada kebutuhan pokok masyarakat selama bulan suci.
Informasi lebih lanjut mengenai data inflasi terbaru dapat dipantau melalui laman resmi Badan Pusat Statistik sebagai referensi tambahan dalam menganalisis daya beli secara nasional.

