Pergerakan saham BUMI kembali menjadi perhatian investor di tengah volatilitas pasar saham Indonesia. Meski sempat mencetak harga tertinggi dalam lima tahun terakhir, harga saham BUMI kini mengalami koreksi tajam sepanjang 2026.
Di sisi lain, sejumlah analis masih melihat potensi pemulihan, terutama jika strategi diversifikasi bisnis mineral yang dilakukan perusahaan berjalan sesuai rencana.
Saham BUMI Masuk Daftar Saham Likuid
Dalam analisis terbaru yang dirilis oleh Pintar Saham.id, investor disarankan untuk fokus pada saham dengan likuiditas tinggi ketika pasar menghadapi volatilitas.
Beberapa saham yang disebut memiliki frekuensi perdagangan tinggi antara lain:
- BRMS
- BUMI
- AMRT
Saham-saham tersebut dinilai memberikan fleksibilitas bagi investor untuk keluar dan masuk posisi ketika pasar bergerak fluktuatif.
Harga Saham BUMI Turun Tajam Tahun Ini
Data pasar menunjukkan harga saham BUMI telah turun signifikan sepanjang tahun berjalan.
Saham emiten tambang milik Grup Bakrie dan Salim tersebut tercatat merosot sekitar 43,72 persen secara year to date (YTD).
Padahal pada 6 Januari 2026, saham BUMI sempat mencetak level tertinggi dalam lima tahun terakhir di Rp484 per saham.
Namun setelah mencapai puncak tersebut, saham BUMI mengalami tekanan hingga turun ke Rp206 pada penutupan perdagangan 17 Maret 2026.
Net Sell Asing Tekan Saham BUMI
Salah satu faktor yang mempengaruhi pergerakan saham BUMI terbaru adalah aksi jual investor asing.
Berdasarkan data perdagangan, saham BUMI mencatat net sell investor asing sebesar Rp7,57 triliun sepanjang 2026.
Angka tersebut menjadikan BUMI sebagai saham dengan net sell asing terbesar kedua di Bursa Efek Indonesia pada periode Januari–Maret 2026.
Prospek Saham BUMI dari Diversifikasi Mineral
Meski harga sahamnya mengalami tekanan, analis menilai langkah perusahaan memperluas bisnis ke sektor mineral dapat menjadi katalis positif dalam jangka panjang.
Kepala Riset KISI Sekuritas Muhammad Wafi menyebut bahwa ekspansi ke sektor mineral berpotensi memperbaiki profil Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan.
Ekspansi tersebut dilakukan melalui anak usaha PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang saat ini aktif mengembangkan proyek emas dan mineral.
Namun dalam jangka pendek, kontribusi bisnis mineral diperkirakan belum dapat menyamai pendapatan batu bara.
Hal ini karena produksi dari dua anak usaha utama BUMI, yaitu PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia, masih menjadi sumber pendapatan terbesar perusahaan.
Target Harga Saham BUMI
Dalam risetnya, analis memberikan rekomendasi beli saham BUMI dengan target harga Rp280 per saham.
Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan dari harga saat ini jika strategi ekspansi bisnis mineral perusahaan berjalan sesuai rencana.
Bagi investor, pergerakan saham BUMI ke depan akan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor utama seperti:
- pergerakan harga batu bara global
- arus dana investor asing
- perkembangan proyek mineral BRMS

