Bursarakyat.com – Memasuki Januari 2026, genap dua tahun sudah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mengambil langkah strategis dengan menyerahkan kendali operasional Tokopedia kepada ByteDance. Bagi para pelaku pasar modal, periode ini menjadi momen pembuktian krusial mengenai prospek saham GOTO ke depan. Apakah strategi melepas beban e-commerce benar-benar efektif menciptakan profitabilitas, atau hanya sekadar perbaikan jangka pendek di atas kertas?
Sebagai pengamat yang telah berkecimpung lebih dari 15 tahun di pasar modal Indonesia, saya melihat adanya pergeseran struktural yang sangat menarik pada emiten teknologi ini. Narasi bakar uang yang dulu melekat erat kini perlahan berganti menjadi cerita tentang efisiensi dan pertumbuhan margin tinggi. Artikel ini akan membedah secara objektif apa yang sebenarnya terjadi di balik angka-angka laporan keuangan terbaru perseroan.
Kilas Balik dan Transformasi Bisnis
Perubahan radikal GOTO dimulai ketika unit bisnis e-commerce mereka diambil alih oleh induk TikTok pada awal 2024. Sejak saat itu, perseroan secara konsisten menapak jalur menuju profitabilitas dengan tumpuan baru, yakni layanan On-Demand Services (ODS) melalui Gojek dan layanan teknologi finansial atau fintech melalui GoTo Financial (GTF).
Fokus manajemen kini terlihat sangat jelas: meninggalkan kompetisi e-commerce yang padat modal dan beralih mengoptimalkan basis pengguna setia untuk layanan yang menghasilkan uang tunai lebih cepat. Hasil dari strategi ini mulai terlihat nyata dalam laporan kinerja operasional yang dirilis pada awal tahun ini.
Realisasi Kinerja Keuangan Terkini
Berdasarkan data kinerja hingga Kuartal III/2025, GOTO berhasil membukukan Adjusted EBITDA positif sebesar Rp1,34 triliun untuk periode sembilan bulan. Angka ini mencerminkan pembalikan arah yang sangat agresif jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024, di mana perseroan masih mencatatkan minus Rp79 miliar. Tren positif ini bahkan membuat manajemen berani menaikkan panduan kinerja Adjusted EBITDA Grup 2025 ke kisaran Rp1,8 triliun hingga Rp1,9 triliun.
Dari sisi pendapatan, mesin uang GOTO juga bekerja lebih efisien. Pendapatan bersih perseroan tercatat naik 14% secara tahunan (YoY) menjadi Rp13,30 triliun hingga September 2025. Yang lebih mengesankan, perseroan mampu memangkas rugi periode berjalan secara signifikan hingga 78%, menyisakan kerugian di angka Rp996,98 miliar dari sebelumnya Rp4,54 triliun. Bahkan, untuk pertama kalinya, GOTO mencetak laba sebelum pajak yang disesuaikan (Adjusted PBT) positif sebesar Rp62 miliar di kuartal ketiga.
Bedah Kualitas Laba dan Segmen Fintech
Analisis mendalam terhadap prospek saham GOTO tidak bisa lepas dari kualitas pertumbuhan labanya. Kenaikan kinerja ini bukan semata-mata hasil penghematan biaya atau efisiensi brutal (cost-cutting), melainkan adanya pertumbuhan organik dari lini bisnis inti. Unit bisnis fintech kini muncul sebagai primadona baru menggantikan volume transaksi e-commerce.
Data menunjukkan pendapatan bersih dari GoTo Financial melonjak 55% pada kuartal ketiga 2025, sementara secara kumulatif sembilan bulan melesat 71% menjadi Rp4,10 triliun. Ini adalah sinyal kuat bahwa monetisasi ekosistem berjalan mulus. Produk pinjaman dan pembayaran digital memiliki margin keuntungan yang jauh lebih tebal dibandingkan bisnis logistik atau transportasi. Nathan Naidu, analis dari Bloomberg Intelligence, bahkan menyebutkan bahwa integrasi dengan TikTok yang memiliki 200 juta pengguna memberikan GOTO jalur akuisisi pelanggan yang sangat murah dan efektif.
Di sisi lain, segmen ODS (Gojek) menunjukkan stabilitas yang matang. Pendapatan bersih segmen ini tumbuh 18% YoY menjadi Rp9,20 triliun. Hal ini mengindikasikan bahwa konsumen Gojek adalah pengguna loyal yang tidak terlalu sensitif terhadap pengurangan subsidi atau kenaikan tarif, sebuah karakteristik penting untuk bisnis yang berkelanjutan.
Reaksi Pasar dan Valuasi Saham
Perbaikan fundamental ini tentu memberikan dampak psikologis dan riil terhadap pergerakan harga saham di pasar sekunder. Investor institusi besar, termasuk JP Morgan, mulai melihat GOTO dengan kacamata yang berbeda. Dalam riset terbarunya, JP Morgan mempertahankan proyeksi positif hingga tahun 2027, yang menyiratkan kepercayaan institusi asing terhadap model bisnis baru perseroan.
Pasar kini mulai melakukan penilaian ulang (re-rating) terhadap GOTO. Jika sebelumnya saham ini dinilai sebagai growth stock yang penuh spekulasi rugi, kini pasar mulai menghitungnya sebagai path-to-profitability play. Kestabilan EBITDA yang positif memberikan dasar valuasi yang lebih kokoh, sehingga harga saham memiliki level support fundamental yang lebih kuat dibandingkan dua tahun lalu saat masih terbebani kerugian Tokopedia.
Risiko Investasi yang Wajib Dicermati
Kendati tren kinerja menunjukkan grafik yang menanjak, investor tetap harus waspada terhadap risiko yang mengintai. Risiko terbesar saat ini bergeser dari “bakar uang” menjadi risiko persaingan di sektor keuangan digital. Ranah fintech dan bank digital di Indonesia sangat kompetitif dengan hadirnya pemain besar lain seperti SeaMoney (Shopee) dan berbagai bank digital yang didukung konglomerasi lokal. Perang suku bunga atau insentif di sektor ini bisa saja menggerus margin tebal yang kini dinikmati GOTO.
Selain itu, faktor makroekonomi tetap menjadi bayang-bayang. Bisnis transportasi dan pengiriman makanan sangat bergantung pada daya beli kelas menengah. Jika inflasi melonjak atau pertumbuhan ekonomi melambat, frekuensi transaksi harian pengguna bisa menurun, yang pada akhirnya akan menekan pertumbuhan pendapatan di masa depan. Regulasi OJK terkait pinjaman online dan Paylater juga menjadi variabel eksternal yang perlu terus dipantau perkembangannya.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, prospek saham GOTO di tahun 2026 terlihat jauh lebih sehat dan rasional dibandingkan saat masa IPO. Keputusan melepas Tokopedia terbukti menjadi langkah turnaround yang valid, mengubah struktur keuangan perusahaan menjadi lebih ramping dan efisien. Fokus pada bisnis high-margin seperti fintech mulai membuahkan hasil yang konkret pada laporan laba rugi.
Bagi investor, kuncinya kini adalah konsistensi. Apakah GOTO mampu mempertahankan pertumbuhan fintech di atas 50% setiap tahunnya sambil menjaga efisiensi biaya? Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin Net Profit (laba bersih) yang sesungguhnya akan segera tercapai, menjadikan saham ini aset yang menarik untuk portofolio jangka panjang.
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan data publik dan analisis independen per tanggal 9 Januari 2026. Tulisan ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Admin Bursarakyat.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul dari keputusan investasi Anda.