Emiten nikel baterai kendaraan listrik, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), mengumumkan rencana buyback saham MBMA di tengah kondisi pasar saham yang bergejolak.
Perusahaan yang terafiliasi dengan pengusaha Garibaldi Thohir tersebut menyiapkan dana hingga Rp1,7 triliun untuk melakukan pembelian kembali saham (share buyback).
Melalui keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, manajemen MBMA menyebutkan buyback akan mencakup maksimal 1,8 miliar saham MBMA.
Dana tersebut sudah termasuk biaya perantara perdagangan efek serta biaya lain yang berkaitan dengan aksi korporasi tersebut.
Buyback MBMA Tanpa RUPS
Manajemen perseroan menyatakan bahwa buyback saham MBMA akan dilakukan tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Kebijakan tersebut mengacu pada regulasi dari Otoritas Jasa Keuangan yaitu POJK Nomor 13 Tahun 2023 yang memungkinkan perusahaan melakukan pembelian kembali saham saat kondisi pasar berfluktuasi.
Program buyback saham MBMA akan berlangsung selama tiga bulan, dimulai dari 16 Maret hingga 16 Juni 2026.
“Jumlah nilai nominal seluruh saham yang akan dibeli kembali akan bergantung pada jumlah saham yang benar-benar dibeli oleh perseroan dalam pelaksanaan buyback,” ujar manajemen MBMA dalam keterbukaan informasi.
Harga Buyback MBMA Diperkirakan Rp944 per Saham
Perseroan menyatakan harga maksimal buyback akan ditentukan berdasarkan harga yang dianggap wajar dan optimal sesuai ketentuan POJK.
Namun jika mengacu pada estimasi dana buyback dan jumlah saham yang akan dibeli, harga maksimal buyback saham MBMA diperkirakan berada di kisaran Rp944 per saham.
Strategi buyback ini biasanya dilakukan emiten untuk:
- menjaga stabilitas harga saham
- meningkatkan kepercayaan investor
- memperkuat nilai pemegang saham
Pergerakan Saham MBMA
Pada perdagangan terbaru, harga saham MBMA tercatat melemah sekitar 5 persen ke level Rp670 per saham.
Penurunan tersebut sejalan dengan tekanan pada IHSG.
Meski demikian, kinerja saham Merdeka Battery Materials masih menunjukkan tren positif dalam jangka menengah.
Sejak awal tahun 2026, saham MBMA masih mencatat kenaikan lebih dari 17 persen, didorong oleh prospek bisnis nikel dan baterai kendaraan listrik yang terus berkembang.

