IHSG Tembus 7.100, Sinyal Tekanan Pasar Mulai Mereda

IHSG naik ke 7.106 setelah menguji level 7.000, didorong aksi beli asing dan sinyal teknikal yang mengindikasikan tekanan pasar mulai mereda.

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat ke level 7.106,84 pada penutupan perdagangan Selasa, 17 Maret 2026, naik 1,20 persen atau 84,55 poin, setelah sebelumnya menguji level psikologis 7.000 di tengah tekanan global. Penguatan ini didorong aksi beli investor asing dan munculnya sinyal teknikal yang mengindikasikan tekanan pasar mulai mereda, 17 Maret 2026.

IHSG bergerak dalam rentang 7.059 hingga 7.148 dengan nilai transaksi sekitar Rp17,87 triliun. Volume perdagangan mencapai 246,13 juta lot dengan frekuensi lebih dari 1,55 juta kali.

Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menyebutkan pergerakan indeks mulai menunjukkan tekanan yang lebih terbatas di area bawah, seiring perubahan aktivitas transaksi dan munculnya sinyal teknikal di area support.

“Tekanan pasar mungkin akan mulai terbatas (limited downside potential),” tulis Kiwoom dalam risetnya, dikutip Rabu, 18 Maret 2026.

Data menunjukkan investor asing kembali mencatat pembelian bersih sebesar Rp155,35 miliar di pasar reguler, dengan total pembelian Rp10,04 triliun dan penjualan Rp9,89 triliun. Meski demikian, secara mingguan investor asing masih mencatat penjualan bersih sekitar Rp1,57 triliun.

Dari sisi nilai transaksi, investor asing menyumbang 56,03 persen, sementara investor domestik 43,97 persen. Namun, investor domestik mendominasi volume perdagangan sebesar 68,22 persen dan frekuensi transaksi sebesar 75,06 persen.

Secara teknikal, Kiwoom mencatat terbentuknya pola candlestick menyerupai hammer di area support lower channel, yang mengindikasikan potensi pembalikan arah. Indikator Relative Strength Index (RSI) juga menunjukkan divergensi positif, ketika harga membentuk titik rendah baru tetapi indikator tidak mengikuti pelemahan tersebut.

“Pasar memiliki kemungkinan rebound teknikal dari level psikologis 7.000,” tulis Kiwoom.

Dalam satu bulan terakhir, IHSG masih mencatat penurunan sekitar 13,46 persen. Faktor eksternal, seperti pergerakan harga minyak global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat, tetap menjadi penentu utama sentimen pasar.

Harga minyak Brent berada di kisaran US$100 per barel setelah sebelumnya mendekati US$120, memengaruhi ekspektasi inflasi global dan arah suku bunga. Pasar juga menanti hasil pertemuan Federal Reserve yang berlangsung saat Bursa Efek Indonesia memasuki masa libur Lebaran.

Di dalam negeri, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp16.978 per dolar AS, mendekati level psikologis Rp17.000 di tengah tekanan eksternal.

Kiwoom menilai kondisi pasar masih sensitif terhadap perkembangan global dan investor cenderung berhati-hati menjelang libur panjang.

“Posisi saat ini masih highly speculative, sehingga investor disarankan untuk tidak terlalu agresif dalam mengambil posisi,” tulis riset tersebut.

Ke depan, pergerakan IHSG dalam jangka pendek diperkirakan tetap dipengaruhi dinamika global selama periode libur, termasuk kebijakan moneter dan harga energi dunia.