Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguji level support kritis pada perdagangan Selasa, 3 Maret 2026. Dinamika pasar modal domestik saat ini tengah berada di bawah bayang-bayang peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah yang memicu sikap konservatif dari para pelaku pasar global.
Penutupan perdagangan sebelumnya mencatatkan pelemahan IHSG yang cukup signifikan sebesar 2,66% ke level 8.016,8. Berdasarkan observasi pasar, tekanan jual yang masif terjadi setelah adanya eskalasi konflik terbuka yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari lalu. Kondisi ini secara langsung mendorong investor untuk mengalihkan aset mereka dari instrumen berisiko tinggi menuju aset aman (safe haven), yang pada gilirannya menekan kinerja bursa saham di kawasan Asia, termasuk Indonesia.
Secara teknikal, pergerakan indeks masih berusaha bertahan di atas level psikologis 8.000 dan area Moving Average 200 (MA200). Namun, indikator MACD menunjukkan adanya penyempitan histogram positif yang berisiko membentuk fase death cross. Jika tekanan jual berlanjut dan indeks menembus level 8.000, terdapat potensi pelemahan lebih lanjut menuju area support di rentang 7.860 hingga 7.900.
Sektor energi dan komoditas emas menjadi sedikit dari sekian banyak instrumen yang mampu memberikan resistensi terhadap pelemahan indeks. Kenaikan harga minyak mentah dunia akibat gangguan rantai pasok energi global memberikan sentimen positif bagi emiten terkait. Investor terlihat mengapresiasi saham-saham seperti ANTM, PTBA, dan INDY di tengah kekhawatiran inflasi global yang meningkat. Kenaikan harga komoditas ini sering kali dipandang sebagai langkah lindung nilai oleh pelaku pasar saat ketidakpastian ekonomi meningkat.
Di sisi domestik, rilis data makroekonomi turut memberikan warna pada pergerakan pasar. Angka inflasi Februari 2026 tercatat meningkat 0,68% secara bulanan (MoM), yang didorong oleh kenaikan harga kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjelang periode Ramadan. Secara tahunan, inflasi berakselerasi ke level 4,76% (YoY), menandai level tertinggi sejak Maret 2023. Akselerasi inflasi ini menjadi perhatian serius karena berpotensi mempengaruhi kebijakan suku bunga di masa mendatang.
Kinerja neraca perdagangan Indonesia juga menunjukkan normalisasi dengan surplus yang menyusut menjadi US$ 0,95 miliar pada Januari 2026. Penurunan surplus ini disebabkan oleh lonjakan impor sebesar 18,21% (YoY) yang melampaui pertumbuhan ekspor. Meskipun demikian, aktivitas manufaktur dalam negeri masih menunjukkan resiliensi dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang tumbuh ke level 53,8 di Februari 2026, mencerminkan permintaan domestik yang tetap solid di tengah gejolak eksternal.
Nilai tukar Rupiah terpantau masih berada dalam tekanan dengan posisi penutupan di level Rp 16.868 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda ini sejalan dengan tren pelemahan mayoritas mata uang di Asia terhadap dolar AS yang menguat akibat permintaan aset safe haven. Bagi pelaku pasar modal, stabilitas nilai tukar menjadi faktor kunci dalam menjaga kepercayaan arus modal asing (capital flow) ke pasar saham Indonesia.
Menjelang perdagangan Selasa (3/3/2026), pelaku pasar cenderung memperhatikan emiten dengan fundamental kuat dan eksposur terhadap harga komoditas global. Beberapa saham yang menjadi perhatian analis untuk tujuan pemantauan pasar meliputi ANTM, ESSA, PTBA, LSIP, dan INDY. Fokus pasar akan tertuju pada kemampuan indeks untuk mempertahankan area 8.000 sebagai pijakan untuk stabilisasi jangka pendek.

