Minyak Brent & WTI Melonjak di Akhir Februari, Risiko Geopolitik Bayangi Pasar Energi

Kenaikan harga minyak dunia ke level USD72 per barel dipicu oleh ketegangan geopolitik Timur Tengah dan stok AS yang menipis, namun proyeksi jangka panjang justru menunjukkan potensi surplus pasokan.

Harga minyak dunia baru saja menunjukkan taringnya dengan menembus level psikologis yang cukup signifikan pada penutupan Februari 2026 ini. Pergerakan pasar energi global sedang berada dalam fase yang sangat dinamis, di mana ketegangan geopolitik dan data persediaan stok menjadi bahan bakar utama kenaikan harga. Namun, di balik lonjakan yang terjadi saat ini, terdapat proyeksi menarik dari lembaga keuangan global yang memberikan sudut pandang berbeda mengenai masa depan komoditas emas hitam ini dalam jangka menengah.

Lonjakan Harga Brent dan WTI di Level Tertinggi

Berdasarkan data perdagangan terbaru pada akhir Februari 2026, kontrak berjangka Brent sebagai acuan global terpantau melesat hingga 2,65 persen ke posisi USD72,8 per barel. Kenaikan ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa, melainkan sebuah momentum di mana harga berhasil melewati batas psikologis USD70 yang selama ini menjadi perhatian para pelaku pasar. Secara akumulatif, Brent bahkan sudah mengantongi penguatan sebesar 9,24 persen hanya dalam kurun waktu satu bulan sepanjang Februari.

Kondisi serupa juga terlihat pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat yang menguat 2,49 persen dan kini menetap di kisaran USD67 per barel. Dari sudut pandang observasi pasar, tren penguatan ini dipicu oleh kombinasi antara faktor fundamental dan sentimen eksternal yang terjadi secara bersamaan. Data persediaan minyak mentah di Amerika Serikat secara tidak terduga mengalami kontraksi atau penurunan, yang secara otomatis memberikan sinyal bahwa keseimbangan antara pasokan dan permintaan sedang mengetat untuk jangka pendek.

Analisis Sentimen Geopolitik AS dan Iran

Salah satu faktor utama yang membuat pelaku pasar cenderung protektif adalah meningkatnya tensi diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran terkait negosiasi nuklir di Jenewa. Ketegangan di kawasan Timur Tengah selalu memiliki korelasi langsung terhadap volatilitas harga energi karena kekhawatiran akan adanya gangguan pada jalur distribusi maupun produksi. Beberapa analis menilai bahwa spekulasi pasar mengenai kemungkinan aksi militer telah memberikan “premi risiko” sebesar USD10 per barel pada harga Brent saat ini, menjadikannya diperdagangkan di atas nilai wajar estimasi awal.

Selain isu Iran, perhatian pasar kini tertuju pada pertemuan rutin OPEC+ yang akan segera dilaksanakan. Keputusan para negara pengekspor minyak mengenai kuota produksi akan menjadi variabel penentu apakah tren kenaikan ini akan berlanjut atau justru melandai. Investor biasanya mempertimbangkan kebijakan pemangkasan produksi sukarela sebagai langkah untuk menjaga stabilitas harga agar tidak jatuh terlalu dalam saat terjadi surplus di masa mendatang.

Prediksi Harga Minyak Dunia 2026 Versi JP Morgan

Menariknya, meskipun saat ini harga sedang berada di puncak tertingginya dalam enam bulan terakhir, J.P. Morgan Global Research justru memberikan proyeksi yang lebih konservatif untuk jangka menengah. Data menunjukkan bahwa harga Brent rata-rata diperkirakan akan mendarat di kisaran USD60 per barel pada tahun 2026. Analisis ini didasari oleh proyeksi pertumbuhan permintaan global yang hanya sebesar 0,9 juta barel per hari (mbd), sementara pertumbuhan pasokan dari negara-negara produsen diperkirakan akan melampaui angka tersebut.

Kondisi potensi surplus ini sebenarnya sudah mulai terlihat dari data indikasi pada awal tahun. Kami melihat bahwa tanpa adanya pemangkasan produksi yang signifikan dari anggota OPEC+, akumulasi persediaan berlebih akan sulit dihindari pada paruh kedua tahun depan. Oleh karena itu, lonjakan harga yang terjadi saat ini dianggap bersifat situasional akibat faktor geopolitik, sementara secara struktural pasar masih memiliki kecenderungan untuk bergerak menuju level keseimbangan yang lebih rendah di angka USD60.

Dampak Perubahan Rezim dan Pergeseran Arus Dagang Global

Secara historis, perubahan peta politik di negara produsen minyak kelas kakap memang selalu menjadi pemicu guncangan harga. Sejak tahun 1979, setidaknya terdapat delapan peristiwa perubahan rezim yang menyebabkan kenaikan harga rata-rata hingga 76 persen dari titik awal hingga puncak krisis. Contoh nyata adalah Revolusi Iran yang dampaknya masih terasa hingga hari ini, di mana kapasitas produksi mereka belum benar-benar kembali ke level sebelum krisis tersebut terjadi puluhan tahun silam.

Di sisi lain, dunia sedang menyaksikan pergeseran arus perdagangan minyak yang cukup masif akibat sanksi ekonomi. Rusia, yang 70 persen minyak mentahnya berada di bawah pembatasan, mulai mengalihkan aliran ekspornya secara besar-besaran ke Asia, khususnya China. Sementara itu, India mulai melakukan diversifikasi dengan mengurangi pembelian minyak Rusia dan melirik kembali potensi minyak dari Venezuela pasca pelonggaran sanksi. Dinamika ini menunjukkan bahwa meskipun pasokan global secara total mencukupi, kompleksitas logistik dan hambatan geopolitik tetap menjadi tantangan besar bagi stabilitas energi dunia ke depannya.