JAKARTA – Harga emas global dan domestik kompak anjlok pada 19 Maret 2026 meski ketegangan di Timur Tengah meningkat, menyebabkan investor yang membeli di level tinggi mengalami kerugian signifikan, 19 Maret 2026.
Penurunan tajam ini terjadi di tengah kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS, yang justru menekan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Di pasar domestik Vietnam, harga emas batangan SJC tercatat turun drastis hingga sekitar 7,5 juta dong per ons dibandingkan hari sebelumnya. Pada sesi sore, harga berada di kisaran 172,5 juta hingga 175,5 juta dong per ons di sejumlah pelaku usaha besar.
Penurunan ini memicu lonjakan permintaan. Sejak pagi, masyarakat terlihat mengantre di berbagai toko emas untuk memanfaatkan harga yang lebih rendah.
Sejumlah toko bahkan melaporkan keterbatasan stok untuk produk tertentu, terutama cincin emas kecil, sementara pembelian dalam jumlah besar harus menunggu pengiriman berikutnya.
Analis menilai penurunan harga emas dipengaruhi kuat oleh kebijakan moneter Amerika Serikat.
Ekonom Nguyen Quang Huy mengatakan suku bunga tinggi yang dipertahankan lebih lama oleh bank sentral AS mengalihkan minat investor ke instrumen berimbal hasil.
“Saat suku bunga tinggi, aset seperti obligasi pemerintah AS menjadi lebih menarik, sehingga dana berpindah dari emas yang tidak memberikan imbal hasil,” ujarnya.
Selain itu, penguatan dolar AS turut memberikan tekanan tambahan. Nilai tukar yang lebih kuat membuat harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor global.
Pandangan serupa disampaikan ahli keuangan Le Ba Chi Nhan, yang menilai pergerakan harga emas saat ini mencerminkan pergeseran arus modal global.
Menurutnya, kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik meningkatkan kekhawatiran inflasi, yang kemudian mendorong ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
“Kondisi ini memperkuat dolar AS dan pada saat yang sama menekan harga emas,” katanya.
Di pasar global, harga emas spot tercatat turun sekitar 2,5 persen menjadi sekitar 4.698 dolar AS per ons, mendekati level terendah dalam enam pekan terakhir.
Dalam beberapa hari terakhir, tren penurunan terlihat cukup kuat. Harga emas melemah lebih dari 7 persen dalam lima hari terakhir, meski secara tahunan masih mencatat kenaikan.
Ketua Federal Reserve Jerome Powell sebelumnya menyatakan suku bunga akan tetap dipertahankan pada kisaran tinggi untuk mengantisipasi risiko inflasi, yang menjadi salah satu faktor utama tekanan terhadap emas.
Penguatan indeks dolar AS di atas level 100 juga memperburuk tekanan terhadap logam mulia tersebut.
Meski demikian, sejumlah analis menilai harga emas masih memiliki peluang pulih dalam jangka panjang, terutama jika tekanan inflasi mereda dan kebijakan suku bunga mulai dilonggarkan.
Pakar keuangan Phan Dung Khanh mengingatkan investor untuk tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Ia menyarankan investor jangka panjang dapat membeli secara bertahap, sementara investor jangka pendek sebaiknya menunggu stabilitas pasar.
Dengan kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, pergerakan harga emas dalam beberapa bulan ke depan diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter dan perkembangan geopolitik.

