JAKARTA – Perang Iran tak hanya memicu ketegangan geopolitik, tetapi juga langsung mengguncang ekonomi Asia, memicu lonjakan harga energi dan memaksa sejumlah negara memberlakukan penghematan ekstrem, 20 Maret 2026.
Dampaknya terasa cepat dan luas. Dari antrean bahan bakar hingga pembatasan konsumsi listrik, krisis ini menunjukkan betapa rapuhnya ketergantungan Asia terhadap pasokan energi global—terutama dari Timur Tengah.
Gangguan pasokan minyak dan gas terjadi setelah serangan ke fasilitas energi di Iran, yang mempersempit distribusi global. Jalur vital seperti Selat Hormuz kini menjadi titik rawan, dengan lalu lintas kapal energi menurun drastis.
Data menunjukkan sejak akhir Februari, hanya sekitar 90 kapal yang berhasil melintasi jalur tersebut—indikasi tekanan serius pada salah satu urat nadi energi dunia.
“Dampak terbesar justru dirasakan negara-negara Asia yang bergantung pada jalur ini,” kata Michael Williamson dari Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik.
Analis energi Ramnath Iyer memperingatkan efek lanjutan tidak bisa dihindari.
“Ini bukan sekadar krisis energi, tapi bisa merembet ke seluruh aktivitas ekonomi,” ujarnya.
Jepang mulai waspada
Jepang menjadi negara paling rentan. Sekitar 93 persen impor minyaknya melewati Selat Hormuz. Kenaikan harga pun tak terhindarkan.
Harga bensin melonjak menjadi 175 yen per liter dari sebelumnya 144 yen hanya dalam sebulan. Pemerintah mulai menguras cadangan minyak untuk menjaga stabilitas pasokan.
Namun tekanan publik meningkat. Krisis ini mengingatkan pada gejolak minyak 1970-an, ketika kelangkaan energi memicu antrean panjang dan kepanikan nasional.
Korea Selatan dan China mulai tertekan
Korea Selatan mulai merasakan dampak kenaikan harga energi. Antrean di SPBU meningkat, sementara biaya operasional sektor logistik dan pertanian melonjak.
Pemerintah masih mengklaim cadangan energi cukup untuk beberapa bulan, namun langkah antisipasi mulai disiapkan, termasuk peningkatan produksi listrik berbasis batu bara dan nuklir.
China relatif lebih stabil berkat cadangan energi besar dan kontribusi energi terbarukan. Namun tekanan tetap muncul, terutama di sektor transportasi, dengan harga tiket pesawat melonjak tajam.
Asia Tenggara mulai terdampak industri
Vietnam menghadapi lonjakan biaya produksi di sektor industri seperti baja, tekstil, dan alas kaki. Kenaikan harga bahan bakar mendorong kenaikan harga barang dan gangguan distribusi.
Thailand juga menghadapi tekanan serupa. Ketergantungan pada impor gas dari Timur Tengah membuat biaya energi meningkat, memaksa pemerintah mengambil langkah penghematan dan menghentikan ekspor minyak.
Namun kebijakan ini meningkatkan beban subsidi dan memperbesar tekanan fiskal.
Indonesia di persimpangan sulit
Indonesia untuk sementara masih menahan harga energi. Namun kebijakan ini diperkirakan tidak akan bertahan lama jika konflik berlanjut.
Pemerintah kini dihadapkan pada dilema: mempertahankan subsidi dengan beban fiskal tinggi, atau menaikkan harga energi dengan risiko inflasi.
Situasi ini menunjukkan bahwa stabilitas harga energi kini menjadi isu strategis, bukan sekadar kebijakan ekonomi domestik.
Negara lain mulai ambil langkah ekstrem
Sejumlah negara mulai menerapkan kebijakan darurat. Filipina menyalurkan bantuan tunai bagi pengemudi, nelayan, dan petani.
Pakistan meliburkan sekolah, memangkas penggunaan bahan bakar pemerintah hingga 50 persen, bahkan membatalkan acara nasional untuk menghemat energi.
Sementara itu, Nepal membatasi distribusi gas LPG agar dapat menjangkau lebih banyak rumah tangga.
Krisis ini menegaskan satu hal: ketika konflik terjadi di Timur Tengah, dampaknya langsung terasa di Asia. Bukan hanya di pasar, tetapi juga di kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dari antrean bensin hingga kebijakan penghematan, energi kini bukan lagi sekadar kebutuhan—melainkan sumber ketidakpastian yang memengaruhi stabilitas ekonomi kawasan.

