JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah dinilai belum memberikan dampak langsung yang signifikan terhadap kinerja ekspor Indonesia karena porsi perdagangan dengan kawasan tersebut relatif kecil, 19 Maret 2026.
Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank menyebut risiko utama justru berasal dari jalur tidak langsung, terutama melalui kenaikan harga energi dan perlambatan ekonomi global.
Head of Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, mengatakan dampak konflik lebih terasa pada stabilitas pasar global dibanding hubungan dagang langsung Indonesia dengan kawasan tersebut.
“Pengaruh terbesar bukan dari perdagangan langsung, tetapi dari kenaikan harga energi, fluktuasi nilai tukar, dan potensi perlambatan industri di negara mitra utama,” ujar Rini dalam keterangannya, Rabu.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Indonesia Eximbank Institute menunjukkan ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2 persen dari total ekspor nasional. Sementara itu, impor dari kawasan tersebut berada di kisaran 3,9 persen, yang didominasi oleh komoditas energi.
Struktur ini menunjukkan keterkaitan langsung Indonesia dengan kawasan konflik masih terbatas. Sebagian besar ekspor nasional justru ditujukan ke kawasan Asia Timur, Asia Tenggara, Amerika Utara, Asia Selatan, dan Eropa Barat.
Meski demikian, LPEI tetap mencermati perkembangan geopolitik, terutama terkait jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz.
“Kami terus memantau keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan energi dunia,” kata Rini.
Kawasan Timur Tengah menyumbang lebih dari 30 persen produksi minyak global, dengan sekitar 20 hingga 30 persen distribusi minyak dunia melewati jalur tersebut. Gangguan di wilayah ini berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan biaya logistik.
Dampak tersebut juga dapat dirasakan Indonesia secara tidak langsung. Sebagian besar impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia yang bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.
Kenaikan harga energi berisiko meningkatkan biaya produksi domestik. Selain itu, negara mitra dagang utama seperti China, Jepang, India, dan Korea Selatan juga dapat terdampak, yang berpotensi menekan permintaan ekspor Indonesia.
Indonesia Eximbank Institute memperkirakan harga minyak global sepanjang 2026 akan berada di kisaran USD85 hingga USD120 per barel, lebih tinggi dibandingkan rata-rata awal tahun.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi industri global, termasuk sektor manufaktur, petrokimia, dan logam dasar. Selain itu, volatilitas pasar keuangan dapat menekan nilai tukar negara berkembang, termasuk rupiah.
Namun, beberapa komoditas unggulan Indonesia seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO) berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga energi.
“Dalam jangka pendek, kenaikan harga komoditas energi dan agro masih dapat menopang ekspor. Namun, risiko pada sektor industri tetap perlu diantisipasi,” ujar Rini.
Ke depan, ekspor Indonesia pada 2026 diproyeksikan tumbuh sekitar 4 hingga 5 persen, dan berpotensi meningkat menjadi 5 hingga 6 persen pada 2027 seiring perbaikan permintaan global dan meredanya ketegangan geopolitik.

