Kelola THR Lebaran dengan strategi tepat agar tak lenyap

THR Lebaran 2026 sering habis tanpa terasa akibat konsumsi berlebih. Dengan strategi smart money, dana THR bisa dikelola lebih bijak melalui dana darurat dan investasi agar tetap bermanfaat jangka panjang.

JAKARTA – Tunjangan hari raya (THR) yang cair menjelang Lebaran 2026 kerap menjadi berkah sekaligus tantangan bagi masyarakat, karena dana tambahan ini sering habis dalam waktu singkat akibat meningkatnya konsumsi, 19 Maret 2026.

Lonjakan belanja saat momen Lebaran membuat banyak orang tidak menyadari bahwa THR hanya digunakan untuk kebutuhan sesaat. Tanpa perencanaan yang jelas, dana tersebut sulit memberikan dampak jangka panjang bagi kondisi keuangan.

Padahal, jika dikelola secara tepat, THR dapat dimanfaatkan sebagai langkah awal untuk memperkuat stabilitas finansial.

PT Indo Premier Sekuritas melalui platform IPOT mengingatkan pentingnya pengelolaan THR secara bijak dengan pendekatan “smart money”.

Chief Marketing Officer PT Indo Premier Sekuritas, Sergio Ticoalu, mengatakan THR seharusnya tidak hanya dihabiskan untuk konsumsi, tetapi juga dialokasikan secara strategis.

“Momentum THR adalah kesempatan untuk mulai mengelola keuangan secara lebih cerdas. Tidak hanya dibelanjakan, tetapi juga diarahkan agar sebagian dana bisa berkembang untuk masa depan,” ujar Sergio dalam keterangan tertulis, Rabu.

Ia menekankan bahwa langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memperkuat dana darurat. Alokasi ini penting untuk menjaga kestabilan keuangan setelah periode Lebaran berakhir.

“Sebanyak 20 hingga 30 persen THR sebaiknya disisihkan sebagai dana cadangan agar kondisi finansial tetap aman sepanjang tahun,” katanya.

Dengan adanya dana darurat, masyarakat dapat menghindari penggunaan utang ketika menghadapi kebutuhan tak terduga.

Setelah kebutuhan pokok dan dana darurat terpenuhi, sisa THR dapat mulai dialihkan ke instrumen investasi. Namun, keputusan investasi harus dilakukan secara rasional dan tidak sekadar mengikuti tren.

“Investor yang baik memiliki keyakinan terhadap pilihannya, bukan karena ikut-ikutan atau takut tertinggal,” ujar Sergio.

Ia juga menyoroti pentingnya literasi keuangan dalam mendukung pengambilan keputusan investasi.

“Pemahaman yang baik tentang pasar akan meningkatkan kepercayaan diri dalam berinvestasi dan membantu menghasilkan keputusan yang lebih tepat,” katanya.

Selain investasi, dana yang belum digunakan juga dapat ditempatkan pada instrumen yang tetap produktif namun memiliki likuiditas tinggi, seperti rekening dana nasabah.

Sergio menegaskan bahwa konsep smart money tidak berarti mengurangi kebahagiaan saat Lebaran, melainkan menciptakan keseimbangan antara konsumsi dan perencanaan keuangan.

“Yang penting bukan menahan diri, tetapi memastikan sebagian dana tetap bisa bekerja setelah Lebaran selesai,” katanya.

Dengan pengelolaan yang tepat, THR tidak hanya habis untuk kebutuhan jangka pendek, tetapi juga dapat menjadi fondasi untuk kondisi keuangan yang lebih sehat sepanjang 2026.