Siapa sebenarnya pemilik saham GTSI yang harganya naik lebih dari 700% setahun terakhir? Simak bedah fundamental dan profil bisnis emiten LNG ini di sini.
BURSARAKYAT.COM – sebuah emiten pelayaran gas alam cair atau LNG bisa mencatatkan kenaikan harga yang sangat agresif hingga ratusan persen dalam setahun? Pertanyaan mengenai siapa pemilik saham GTSI atau PT GTS Internasional Tbk kini menjadi topik hangat di kalangan pelaku pasar modal, terutama generasi milenial yang baru terjun ke bursa. Kenaikan harga yang signifikan ini tentu memancing rasa penasaran, apakah ini murni karena kinerja fundamental atau ada sentimen “Big Money” yang bermain di belakangnya?
Sebagai pelaku pasar yang telah mengamati IHSG lebih dari 15 tahun, fenomena seperti yang terjadi pada GTSI ini selalu menarik untuk dibedah. Mari kita telusuri lebih dalam mengenai profil perusahaan, siapa sosok di balik layar, dan analisis pergerakan harganya yang fantastis.
Ringkasan
PT GTS Internasional Tbk (GTSI) adalah emiten yang bergerak di sektor energi, spesifiknya pada angkutan laut dalam negeri untuk barang khusus dan distribusi gas alam. Perusahaan ini bukanlah pemain baru, mengingat sejarahnya yang panjang sejak era 1980-an di bawah bendera Humpuss Group. Belakangan ini, sorotan pasar tertuju pada GTSI karena lonjakan harga sahamnya yang mencapai lebih dari 780 persen secara Year on Year (YoY), sebuah angka yang sangat masif untuk saham di sektor infrastruktur energi.
Jejak Bisnis dan Struktur Kepemilikan GTSI
Untuk memahami fundamental perusahaan, kita harus melihat sejarahnya. Cikal bakal GTSI dimulai pada tahun 1986 ketika PT Humpuss membangun kapal pengangkut LNG pertamanya bernama Ekaputra 1. Seiring berjalannya waktu, divisi pengangkutan LNG ini dipisahkan atau spin-off dari induknya, Humpuss Intermoda, pada tahun 2012. Sejak saat itu, GTSI berdiri sendiri dan fokus menyediakan layanan angkutan LNG, jasa penyimpanan, hingga regasifikasi menggunakan Floating Storage Regasification Unit (FSRU). Wilayah operasionalnya kini mencakup titik-titik strategis energi nasional seperti Bontang, Bintuni, hingga Aceh.
Lantas, siapa sebenarnya pemilik saham GTSI yang menjadi pengendali utama? Berdasarkan data pemegang efek per 30 November 2025, pengendali saham GTSI adalah PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI). HUMI menguasai sekitar 13,41 miliar lembar saham atau setara dengan 84,8 persen dari total saham yang beredar. Sementara itu, porsi kepemilikan masyarakat berada di angka 15,17 persen atau sekitar 2,40 miliar lembar saham. Struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi pada induk usaha ini menunjukkan betapa kuatnya cengkeraman pengendali terhadap arah kebijakan perusahaan.
Perlu dicatat juga bahwa penerima manfaat akhir atau Ultimate Beneficial Owner dari struktur kepemilikan ini adalah Hutomo Mandala Putra. Nama besar ini tentu sudah tidak asing lagi dalam peta bisnis nasional, khususnya di sektor transportasi dan energi. Keberadaan sosok kuat di balik layar seringkali menjadi faktor “intangible” yang diperhatikan oleh para investor institusi maupun ritel dalam menilai prospek jangka panjang sebuah emiten.
Mengapa Valuasi GTSI Terbang Tinggi?
Mari kita masuk ke bagian analisis yang lebih dalam. Kenaikan harga saham GTSI sebesar 786,36 persen dalam satu tahun terakhir adalah anomali yang menarik. Jika dilihat dari kacamata fund manager, kenaikan setinggi ini jarang terjadi hanya karena pertumbuhan laba operasional semata, kecuali ada corporate action besar atau perubahan fundamental yang radikal. Pada awal Januari tahun lalu, saham ini masih tiarap di bawah Rp50 per lembar (saham gocap), namun kini diperdagangkan di kisaran Rp390.
Ada beberapa faktor analisis yang bisa menjelaskan fenomena ini. Pertama adalah sentimen pemulihan sektor energi dan logistik pasca-pandemi yang meningkatkan permintaan angkutan LNG. Kedua, likuiditas pasar yang masuk ke saham-saham second liner dan third liner seringkali memicu volatilitas ekstrem. Nilai transaksi yang mencapai Rp282 miliar dalam satu sesi perdagangan menunjukkan adanya partisipasi pasar yang sangat aktif. Ini bukan lagi sekadar akumulasi ritel kecil, melainkan ada indikasi perpindahan dana yang cukup besar yang menjaga likuiditas saham tetap tinggi.
Selain itu, posisi GTSI sebagai anak usaha HUMI memberikan sentimen positif tersendiri. Sinergi antar grup Humpuss seringkali menciptakan efisiensi operasional yang disukai investor. Namun, kenaikan harga yang sudah “begger” berkali-kali lipat ini juga menuntut investor untuk lebih jeli melihat rasio valuasi seperti Price to Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV). Apakah harga saat ini sudah mencerminkan future value atau sekadar spekulasi pasar? Pertanyaan ini harus dijawab dengan melihat laporan keuangan kuartalan terbaru secara mendetail.
Efek Domino pada Pergerakan Harga
Dampak dari kenaikan harga yang luar biasa ini tentu beragam. Bagi investor yang sudah masuk sejak harga di bawah Rp100, ini adalah panen raya atau multibagger. Namun, bagi yang baru berniat masuk, pergerakan harga harian mulai menunjukkan volatilitas tinggi. Contohnya pada perdagangan 6 Januari 2026, saham ini sempat turun 2,50 persen di sesi pertama meskipun tren jangka panjangnya masih sangat bullish.
Korelasi antara pemilik saham GTSI yakni HUMI dan kinerja saham anak usahanya juga menjadi linear. Kenaikan valuasi GTSI secara otomatis akan mengerek nilai aset dari HUMI sebagai induk. Hal ini menciptakan efek domino positif bagi grup Humpuss secara keseluruhan di pasar modal. Investor kini cenderung memantau kedua saham ini secara bersamaan, karena sentimen pada satu emiten bisa menjalar ke emiten lainnya dalam satu grup yang sama.
Waspada Volatilitas di Ketinggian
Setiap kenaikan harga yang vertikal pasti menyimpan risiko koreksi yang tajam. Dalam dunia pasar modal, ada istilah tree doesn’t grow to the sky. Risiko utama yang perlu diperhatikan oleh para trader dan investor muda adalah risiko likuiditas jika sewaktu-waktu pemegang saham besar memutuskan untuk melakukan profit taking. Mengingat porsi masyarakat hanya sekitar 15 persen, pergerakan harga sangat mudah dikendalikan oleh market maker atau kekuatan supply dan demand yang diciptakan oleh pemain besar.
Selain itu, ketergantungan bisnis pada kontrak jangka panjang pengangkutan LNG juga menjadi pisau bermata dua. Meskipun memberikan pendapatan stabil, namun jika ada perubahan regulasi energi atau gangguan pada armada kapal, dampaknya ke bottom line perusahaan bisa signifikan. Investor harus selalu memantau berita korporasi dan keterbukaan informasi dari Bursa Efek Indonesia untuk mengantisipasi perubahan tren yang bisa terjadi secara tiba-tiba.
Kesimpulan
Mengetahui siapa pemilik saham GTSI memberikan kita gambaran tentang peta kekuatan di balik emiten pelayaran ini. Dengan dukungan induk usaha HUMI dan rekam jejak panjang di industri LNG, GTSI memiliki fondasi bisnis yang jelas. Namun, lonjakan harga yang mencapai 700 persen lebih dalam setahun terakhir menuntut kehati-hatian ekstra. Bagi Anda yang berjiwa petualang di pasar modal, saham ini menawarkan volatilitas yang menarik, namun pastikan Anda selalu memiliki trading plan yang disiplin dan tidak sekadar ikut-ikutan hype.
Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan Anda. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan finansial.