Tekanan Jual Asing Membengkak di Saham BUMI dan GOTO, Apa yang Sedang Terjadi?

Dinamika pasar modal Indonesia pada pertengahan Februari 2026 kembali menunjukkan pergerakan yang cukup volatil, terutama pada beberapa saham dengan likuiditas tinggi.

Dinamika pasar modal Indonesia pada pertengahan Februari 2026 kembali menunjukkan pergerakan yang cukup volatil, terutama pada beberapa saham dengan likuiditas tinggi. Berdasarkan pengamatan data perdagangan pada sesi I Rabu, 18 Februari 2026, arus modal keluar dari investor mancanegara mulai menunjukkan grafik peningkatan yang cukup signifikan. Fenomena tekanan jual asing ini terpantau paling kuat menyasar dua emiten besar yang selama ini menjadi langganan transaksi bursa, yakni PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).

Kondisi pasar yang cenderung bergerak dinamis ini memicu perhatian banyak pelaku pasar, terutama kalangan investor muda yang memantau pergerakan arus modal atau foreign flow. Data menunjukkan bahwa selisih antara volume penjualan dan pembelian asing di beberapa saham unggulan mengalami pelebaran yang cukup tajam hingga jeda siang. Hal ini mencerminkan adanya aksi distribusi yang dilakukan oleh pemodal institusi luar negeri di tengah kondisi ekonomi makro yang terus berkembang.

Dominasi Aksi Lepas Saham BUMI dan GOTO

Secara statistik, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menempati urutan teratas dalam daftar saham yang paling banyak dilepas oleh investor luar negeri. Dari sudut pandang observasi pasar, volume penjualan asing pada saham ini mencapai angka yang fantastis, yakni lebih dari 2,13 miliar lembar saham. Sebaliknya, volume pembelian hanya berada di kisaran 384,19 juta lembar. Kondisi tersebut menciptakan angka net foreign sell atau penjualan bersih asing sebesar 1,75 miliar lembar saham yang secara langsung memberikan beban pada pergerakan harga di lantai bursa.

Tidak jauh berbeda dengan sektor komoditas, saham teknologi raksasa PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) juga mengalami nasib serupa dengan mencatatkan tekanan jual asing terbesar kedua. Tercatat ada sekitar 2,21 miliar lembar saham GOTO yang berpindah tangan ke investor domestik, sementara pembelian asing hanya mampu menyerap sekitar 1,53 miliar lembar. Fenomena ini menghasilkan selisih jual bersih sebesar 683,72 juta lembar saham, yang menandakan adanya penyesuaian portofolio besar-besaran oleh investor global pada sektor teknologi di awal tahun 2026 ini.

Analisis Sektor Energi dan Komoditas

Selain dua emiten utama tersebut, beberapa saham di sektor energi dan pendukungnya juga tidak luput dari aksi distribusi. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) turut mencatatkan angka penjualan bersih yang cukup mencolok. DEWA membukukan net foreign sell sebesar 120,81 juta lembar, sedangkan BRMS menyusul dengan angka 44,16 juta lembar. Secara historis, pergerakan saham-saham di grup ini memang sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas global dan sentimen kebijakan energi nasional.

Beberapa analis menilai bahwa tekanan jual ini bisa jadi merupakan bagian dari strategi rebalancing portofolio rutin atau respon terhadap perubahan suku bunga global yang seringkali memicu arus modal kembali ke negara maju (capital outflow). Selain itu, sektor perkebunan melalui PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) juga terpantau mengalami tekanan serupa dengan penjualan bersih mencapai 39,33 juta lembar. Hal ini memperlihatkan bahwa tekanan jual asing tidak hanya terkonsentrasi pada satu sektor saja, melainkan menyebar ke beberapa industri yang sensitif terhadap kebijakan ekspor dan nilai tukar.

Proyeksi Pergerakan Arus Modal Sesi II

Investor biasanya mempertimbangkan data net foreign flow sebagai salah satu indikator sentimen pasar, namun bukan sebagai satu-satunya parameter tunggal dalam mengambil keputusan. Meskipun arus keluar modal asing pada sesi I terlihat cukup masif, dinamika pada sesi II seringkali memberikan kejutan tergantung pada sentimen yang muncul di pasar regional Asia. Pengamat pasar melihat bahwa aksi ambil untung atau profit taking oleh asing merupakan hal yang wajar setelah adanya reli panjang di periode sebelumnya.

Penting bagi para pelaku pasar untuk tetap memantau rilis data ekonomi domestik dan pengumuman kinerja keuangan tahunan yang biasanya dirilis pada periode Februari. Meskipun tekanan jual asing menguat, likuiditas pasar yang terjaga dari investor domestik diharapkan mampu menjadi penyeimbang agar indeks tidak terkoreksi terlalu dalam. Untuk informasi lebih mendalam mengenai analisis fundamental perusahaan, pembaca dapat merujuk pada laporan resmi di laman Bursa Efek Indonesia sebagai referensi pembanding yang valid.

Kami melihat bahwa kewaspadaan dalam mengelola manajemen risiko tetap menjadi kunci utama bagi investor dalam menghadapi volatilitas tinggi. Memperhatikan level support dan resistance secara teknikal serta menyelaraskannya dengan data arus modal asing dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai arah pasar selanjutnya.