Ekonomi RI Tumbuh 5,11% Tapi Terjebak Stagnasi, Berani Incar 6% di 2026?

Laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,11% sepanjang tahun 2025. Angka ini memang sedikit lebih tinggi dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang berada di level 5,03%. Namun, di balik angka yang tampak solid tersebut, tersimpan tanda tanya besar mengenai kualitas pertumbuhan kita. Dari sudut pandang observasi pasar, capaian ini lebih mencerminkan daya tahan atau resiliensi dibandingkan sebuah akselerasi yang transformatif. Pertumbuhan kuartalan yang menyentuh 5,39% di akhir tahun memang memberikan angin segar, namun apakah ini cukup kuat untuk membawa kita terbang ke target 6% pada tahun 2026?

Banyak analis menilai bahwa ekonomi Indonesia saat ini sedang berada dalam fase “nyaman tapi stagnan”. Konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi mencapai 53,63% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Masalahnya, ketergantungan yang terlalu besar pada belanja masyarakat ini menjadi pedang bermata dua. Ketika mesin konsumsi mulai batuk-batuk akibat tekanan daya beli, maka seluruh struktur ekonomi nasional akan ikut merasakan dampaknya secara langsung. Hal ini terlihat dari bagaimana fundamental pertumbuhan kita yang masih terasa rapuh karena belum sepenuhnya bergeser ke sektor produktivitas tinggi.

Fenomena Utang Mahal dan Tekanan Kelas Menengah

Ada fenomena menarik sekaligus mengkhawatirkan jika kita membedah data dari Bank Indonesia. Meskipun permintaan kredit secara umum meningkat, struktur pembiayaannya justru bergeser. Kredit kendaraan bermotor, yang biasanya menjadi indikator kepercayaan diri konsumen jangka panjang, justru mengalami kontraksi sebesar 2,14%. Sebaliknya, penggunaan kartu kredit melonjak drastis dari 43,57% menjadi 70,81%. Fenomena ini mengindikasikan bahwa masyarakat mungkin tetap berbelanja, namun menggunakan instrumen utang jangka pendek dengan bunga yang lebih mahal untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup atau harian.

Data menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat sedang mengalami pergeseran ke arah pembiayaan yang lebih berisiko. Dari sudut pandang observasi pasar, naiknya porsi kredit kartu kredit di tengah melambatnya kredit konsumsi lainnya adalah sinyal bahwa daya beli kelas menengah belum sepenuhnya pulih. Masyarakat cenderung memilih utang instan untuk bertahan, yang dalam jangka panjang bisa membebani stabilitas keuangan rumah tangga. Jika tren “konsumsi dari utang mahal” ini terus berlanjut, maka fondasi ekonomi yang selama ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga akan sangat rentan terhadap guncangan suku bunga.

Investasi Bangunan vs Ekspansi Industri Manufaktur

Sektor investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) memang tumbuh 6,12% dan menjadi kontributor terbesar kedua bagi PDB. Namun, perlu dicermati bahwa pertumbuhan ini masih didominasi oleh barang modal bangunan dan belanja mesin yang bersifat penggantian (replacement), bukan ekspansi kapasitas baru yang agresif. Sebagai perbandingan, utilisasi kapasitas industri nasional per November 2025 hanya berada di kisaran 61,89%, jauh di bawah angka prapandemi yang mencapai 73%-74%. Bahkan, industri baja nasional terlihat masih lesu dengan tingkat utilisasi hanya sebesar 52,7%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa para pelaku usaha masih cenderung wait and see sebelum benar-benar melakukan ekspansi besar-besaran. Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas seharusnya didorong oleh sektor manufaktur bernilai tambah tinggi yang mampu menyerap tenaga kerja secara masif. Tanpa adanya lonjakan produktivitas di sektor industri, investasi yang masuk hanya akan mengisi celah-celah infrastruktur tanpa memberikan dampak pengganda (multiplier effect) yang signifikan terhadap pendapatan riil masyarakat. Transformasi dari ekonomi berbasis konsumsi ke ekonomi berbasis produksi menjadi syarat mutlak yang sulit ditawar lagi.

Tantangan Fiskal dan Target Ambisius di Tahun 2026

Memasuki tahun 2026, pemerintah mematok target pertumbuhan yang cukup berani di level 6%. Namun, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Sisi pendapatan negara mengalami tekanan setelah setoran pajak tahun 2025 hanya mencapai 87,6% dari target APBN, atau mengalami kekurangan (shortfall) sebesar Rp271,7 triliun. Hal ini dipicu oleh normalisasi harga komoditas global seperti batu bara dan nikel, serta menyempitnya basis pajak penghasilan akibat gelombang PHK di beberapa sektor pada tahun lalu. Keterbatasan ruang fiskal ini tentu membatasi kemampuan pemerintah dalam memberikan stimulus ekonomi yang agresif.

Beberapa analis menilai bahwa target 6% mungkin terlalu optimis jika kita hanya mengandalkan mesin lama. Dibutuhkan mesin pertumbuhan baru yang mampu mendongkrak produktivitas secara nasional. Stabilitas nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS juga menjadi faktor kunci, mengingat volatilitas geopolitik global yang masih tinggi. Untuk keluar dari jebakan pertumbuhan 5%, Indonesia memerlukan reformasi struktural yang menyentuh akar permasalahan di sektor riil, bukan sekadar guyuran belanja sosial. Memulihkan kepercayaan pasar dan memperkuat daya beli masyarakat tanpa ketergantungan berlebih pada utang adalah pekerjaan rumah terbesar di tahun ini.