BURSARAKYAT.COM – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum 48 jam agar Teheran membuka kembali Selat Hormuz. Iran merespons keras dengan ancaman menyerang infrastruktur energi dan fasilitas air minum di kawasan Teluk jika jaringan listriknya diserang, Minggu (23/3/2026).
Ancaman saling serang ini meningkatkan risiko krisis energi global. Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan berpotensi mengguncang pasar energi dan memicu lonjakan inflasi global.
Trump memperingatkan Washington akan menghancurkan pembangkit listrik utama Iran jika negara tersebut tidak membuka kembali selat strategis itu.
Sebagai balasan, juru bicara militer Iran Ebrahim Zolfaqari mengatakan serangan terhadap infrastruktur listrik Iran akan dibalas dengan menghantam fasilitas energi, teknologi informasi, dan instalasi desalinasi air di negara-negara Teluk.
Ancaman tersebut menimbulkan kekhawatiran besar karena sebagian besar negara Teluk sangat bergantung pada teknologi desalinasi untuk memproduksi air minum.
Serangan terhadap jaringan listrik Iran juga berpotensi memicu gangguan regional, mengingat konsumsi listrik per kapita negara Teluk jauh lebih tinggi dibanding banyak wilayah lain, terutama untuk mengoperasikan pembangkit air.
Speaker Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf bahkan memperingatkan bahwa fasilitas vital di Timur Tengah dapat “hancur secara permanen” jika pembangkit listrik Iran menjadi target serangan.
Sementara itu, Garda Revolusi Iran menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai fasilitas listrik yang rusak akibat serangan dibangun kembali.
Di tengah meningkatnya ketegangan, militer Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah infrastruktur Iran di Teheran. Media Iran melaporkan sedikitnya satu anak tewas dan beberapa orang luka-luka akibat serangan udara di Khorramabad.
Sirine serangan udara juga terdengar di Tel Aviv dan wilayah Tepi Barat yang diduduki, memperingatkan kemungkinan serangan rudal balasan dari Iran.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi melaporkan dua rudal balistik ditembakkan ke Riyadh. Satu rudal berhasil dicegat sistem pertahanan udara, sementara satu lainnya jatuh di area tidak berpenghuni.
Konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari itu telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan memicu volatilitas tinggi di pasar energi global.
Analis IG Tony Sycamore menyebut ultimatum Trump menciptakan “bom waktu 48 jam ketidakpastian” bagi pasar global.
Jika Selat Hormuz tetap tertutup, dunia berpotensi menghadapi krisis energi terbesar sejak 1970-an. Harga gas di Eropa saja telah melonjak sekitar 35 persen dalam sepekan terakhir.
Situasi ini membuat investor global memantau dengan cermat perkembangan konflik karena dampaknya dapat meluas ke pasar minyak, inflasi global, serta stabilitas ekonomi dunia.

