Ramalan Harga Emas Pekan Ini: Masih Turun atau Siap Rebound?

Harga emas dunia anjlok lebih dari 10% dalam sepekan dan keluar dari level US$5.000 per ons troi. Analis memperingatkan tren penurunan masih berpotensi berlanjut di tengah inflasi dan suku bunga tinggi.

JAKARTA – Harga emas dunia mengalami tekanan tajam setelah anjlok lebih dari 10% dalam sepekan, menjadi kinerja terburuk dalam enam tahun terakhir dan memicu kekhawatiran baru di kalangan investor, Minggu (22/3/2026).

Logam mulia yang biasanya menjadi aset perlindungan saat krisis justru tertekan oleh lonjakan inflasi global akibat kenaikan harga energi. Kondisi ini membuat bank sentral dunia menahan pelonggaran kebijakan moneter, sehingga memicu aksi jual besar-besaran di pasar emas.

Data Kitco News mencatat harga emas spot ditutup turun 3,45% ke level US$4.491,15 per ons troi pada Jumat (20/3/2026). Penurunan ini membuat harga emas terlempar dari level psikologis US$5.000 per ons troi yang sempat bertahan di awal pekan.

Secara teknikal, pelemahan semakin kuat setelah harga emas menembus rata-rata pergerakan 50 hari di bawah US$5.000 per ons troi. Sinyal ini sering dianggap sebagai indikasi tren penurunan lanjutan.

Analis pasar senior OANDA Kelvin Wong mengatakan lonjakan harga emas sebelumnya kemungkinan hanya bersifat sementara.

“Lonjakan sekitar 23% dari awal Februari hingga awal Maret terlihat lebih seperti rebound sementara atau dead cat bounce. Dalam beberapa pekan ke depan, arah pergerakan emas masih cenderung melemah,” ujarnya.

Koreksi tajam ini juga dipicu oleh aksi ambil untung investor yang sebelumnya membeli emas di level tinggi.

Senior Investment Strategist US Bank Wealth Management Rob Haworth mengatakan banyak investor yang masuk di harga di atas US$5.000 kini mulai melepas posisi untuk mengurangi kerugian.

“Investor yang membeli di level tinggi kini berada dalam tekanan. Jika volatilitas terus berlanjut, tekanan di pasar emas bisa semakin besar dalam jangka pendek,” katanya.

Selain faktor teknikal, arah harga emas juga dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik, khususnya ketegangan Iran yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.

Jika konflik meluas dan memicu lonjakan harga minyak, inflasi global dapat meningkat lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat bank sentral kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas.

Namun jika konflik mereda dan harga energi kembali stabil, permintaan emas berpotensi pulih. Bahkan beberapa analis memperkirakan harga bisa kembali naik ke atas US$5.000 per ons troi.

Kepala riset FX dan komoditas Commerzbank Thu Lan Nguyen mengatakan pasar kini mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed.

“Pasar bahkan tidak lagi memperkirakan pemangkasan suku bunga penuh hingga akhir tahun. Pernyataan Jerome Powell tentang risiko inflasi membuat pelonggaran kebijakan menjadi semakin tidak pasti,” ujarnya.

Meski menghadapi tekanan jangka pendek, sejumlah analis tetap optimistis terhadap prospek emas dalam jangka panjang. Ketidakpastian geopolitik, tingginya utang pemerintah global, serta potensi kesalahan kebijakan moneter masih menjadi faktor yang dapat mendorong harga emas.

Head of Commodity Strategy Saxo Bank Ole Hansen mengatakan investor kemungkinan akan menunggu tanda stabilisasi sebelum kembali masuk ke pasar.

“Alasan utama membeli emas sebenarnya belum berubah. Namun pasar membutuhkan waktu untuk menemukan momentum baru,” katanya.

Dalam waktu dekat, pelaku pasar akan memantau perkembangan konflik Iran serta sejumlah data ekonomi penting, termasuk Flash S&P PMI AS pada 24 Maret dan data klaim pengangguran mingguan pada 26 Maret.

Data tersebut berpotensi memberikan petunjuk baru terkait arah inflasi dan kebijakan suku bunga global yang akan menentukan pergerakan harga emas selanjutnya.