JAKARTA – Emiten poultry PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM) membidik pertumbuhan laba bersih hingga 8 persen pada 2026, dengan peluang menembus dua digit seiring lonjakan permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), 20 Maret 2026.
Target ini memberi sinyal bahwa sektor poultry mulai memasuki fase pemulihan, dengan katalis baru dari program pemerintah yang berpotensi menciptakan permintaan stabil jangka panjang.
Direktur Utama PT Janu Putra Sejahtera Tbk, Sri Mulyani, mengatakan segmen parent stock atau day old chick (DOC) masih menjadi tulang punggung kinerja perusahaan.
“Kontribusi laba terbesar tetap berasal dari segmen DOC, dengan proyeksi harga di kisaran Rp7.000 hingga Rp7.500 per ekor,” ujar Sri Mulyani dalam paparan publik.
Dengan harga pokok produksi (HPP) yang berada di rentang Rp4.600 hingga Rp6.000, margin bisnis DOC dinilai masih cukup menarik di tengah perbaikan industri.
Namun, yang mulai mencuri perhatian pasar adalah kontribusi program MBG. Perseroan saat ini telah memasok ayam ke sekitar 50 dapur MBG di wilayah Solo dan Yogyakarta melalui fasilitas rumah potong ayam (RPA).
Permintaan dari program ini dinilai berpotensi menjadi game changer bagi industri poultry karena menciptakan permintaan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Selain itu, segmen telur juga mulai menunjukkan potensi, meski masih dalam tahap pengembangan. Manajemen memperkirakan kontribusi optimal baru akan terlihat pada 2026 seiring peningkatan kapasitas produksi.
Dari sisi industri, perbaikan harga sudah mulai terlihat sejak akhir 2025. Keseimbangan antara pasokan dan permintaan menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga DOC dan produk unggas lainnya.
Di tengah ekspansi, perusahaan juga meningkatkan liabilitas untuk mendukung pengembangan aset biologis dan operasional. Namun, manajemen memastikan kondisi keuangan tetap terkendali dengan perencanaan arus kas yang disiplin.
Tidak hanya itu, strategi ke depan juga mencakup penguatan segmen RPA dan pengembangan produk olahan guna memperluas sumber pendapatan.
Meski demikian, perusahaan memilih untuk tidak melakukan penambahan modal melalui penerbitan saham baru dalam waktu dekat. Ekspansi akan dilakukan secara selektif melalui kemitraan guna menjaga likuiditas.
Bagi investor, kombinasi antara pemulihan harga, dorongan permintaan dari program pemerintah, dan efisiensi operasional menjadi sinyal positif bagi prospek saham AYAM ke depan.

