BRMS Tanggapi Tudingan ‘Trap Report’, Ini Penjelasan Lengkap Manajemen

BRMS akhirnya buka suara soal tudingan “trap report” yang viral. Manajemen ungkap fakta di balik riset UBS, sentimen investor asing, hingga dampak rebalancing indeks GDX terhadap saham.

JAKARTA – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) akhirnya buka suara terkait tudingan “trap report” yang viral di media sosial dan menyeret nama analis dari UBS.

Manajemen BRMS menegaskan bahwa perbedaan pandangan antara manajer investasi dan perusahaan sekuritas merupakan hal yang wajar di pasar modal.

Direktur & Chief Investor Relations BRMS, Herwin Wahyu Hidayat, menyebut persepsi investor terhadap laporan riset dapat bersifat subjektif dan dipengaruhi berbagai faktor.

“Persepsi manajer investasi terhadap perusahaan sekuritas dapat berbeda-beda dan sering kali bersifat subjektif,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (17/3/2026).

Viral di Media Sosial

Sebelumnya, seorang manajer investasi asing, Ricky Ho, melalui akun media sosialnya menuding analis pertambangan UBS Indonesia mempromosikan saham BRMS lewat laporan yang disebut sebagai “trap report”.

Ia juga menyinggung dugaan praktik wash trading pada saham BRMS serta menyebut harga sahamnya telah turun hampir 50% dari level tertinggi.

BRMS: Riset UBS Masih Sejalan

Menanggapi hal tersebut, manajemen BRMS menilai laporan riset UBS masih sejalan dengan sejumlah rumah riset global lainnya.

Menurut Herwin, saat ini terdapat lebih dari sembilan laporan riset publik mengenai BRMS yang umumnya menyoroti katalis pertumbuhan perusahaan dalam beberapa tahun ke depan.

Katalis Utama BRMS

Beberapa faktor yang dinilai dapat mendorong kinerja BRMS antara lain:

  • Peningkatan kapasitas pabrik emas di Palu dari 500 ton per hari menjadi 2.000 ton per hari (target selesai kuartal IV 2026)
  • Operasional tambang emas bawah tanah di Palu dengan kadar 3,5–4,9 gram per ton (mulai semester II 2027)
  • Hasil pengeboran tembaga di Gorontalo yang direncanakan diumumkan pada 2027

Manajemen menyebut seluruh rencana tersebut telah disampaikan kepada investor global dan analis dari berbagai perusahaan sekuritas.

Respons Investor Asing

BRMS juga telah melakukan kegiatan non-deal roadshow (NDR) ke Singapura dan bertemu lebih dari tujuh investor institusi asing.

2Mayoritas investor disebut masih memandang prospek fundamental BRMS secara positif, meskipun tetap mencermati kondisi makro ekonomi Indonesia.

Beberapa faktor yang menjadi perhatian investor antara lain:

  • Prospek peringkat kredit oleh Fitch Ratings dan Moody’s
  • Defisit fiskal
  • Pergerakan IHSG

Tekanan dari Rebalancing Indeks

Penurunan saham BRMS dalam beberapa waktu terakhir juga dinilai dipengaruhi faktor teknis, terutama rebalancing indeks global.

Penyesuaian pada indeks Global Gold Miners Index (GDX) berpotensi memicu arus dana keluar dari sejumlah saham tambang Indonesia.

BRMS diperkirakan mengalami:

  • Outflow sekitar USD37 juta di indeks utama
  • Tambahan outflow sekitar USD10 juta di indeks junior

Sementara itu, beberapa saham tambang lain justru berpotensi mencatat arus dana masuk, seperti:

  • EMAS
  • ARCI
  • PSAB

Rebalancing ini akan efektif secara global pada 20 Maret 2026, namun untuk pasar Indonesia dimajukan menjadi 17 Maret 2026 karena jadwal libur bursa.

Perubahan komposisi indeks biasanya mendorong dana berbasis ETF melakukan penyesuaian portofolio, yang dapat memicu lonjakan volume transaksi dalam jangka pendek.