Pendapatan GOTO Naik Jadi Rp18,3 Triliun di 2025, Kerugian Menyusut Tajam

Pendapatan GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) naik menjadi Rp18,32 triliun sepanjang 2025, didorong pertumbuhan pengguna yang bertransaksi hingga 66 juta. Meski masih mencatat kerugian, kinerja perusahaan menunjukkan perbaikan signifikan dengan rugi bersih yang menyusut tajam dibanding tahun sebelumnya.

Kinerja keuangan GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) menunjukkan perbaikan sepanjang 2025. Emiten teknologi ini mencatat pertumbuhan pendapatan sekaligus penurunan kerugian dibanding tahun sebelumnya.

Sepanjang 2025, pendapatan GOTO tercatat mencapai Rp18,32 triliun, meningkat dari Rp15,89 triliun pada 2024. Pertumbuhan ini mencerminkan semakin kuatnya aktivitas transaksi dalam ekosistem layanan digital GOTO.

Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan GOTO, R.A. Koesoemohadiani mengatakan kenaikan pendapatan tersebut sejalan dengan meningkatnya jumlah pengguna aktif yang bertransaksi di platform GOTO.

Jumlah Pengguna Transaksi Naik 24%

Jumlah Annual Transacting Users (ATU) atau pengguna yang bertransaksi tahunan di ekosistem GOTO tercatat naik signifikan.

Pada 2025, jumlah ATU mencapai 66 juta pengguna, meningkat 24% secara tahunan (Year on Year/YoY).

Peningkatan jumlah pengguna ini mencerminkan semakin luasnya pemanfaatan layanan GOTO, mulai dari transportasi online, layanan on-demand, hingga e-commerce.

EBITDA GOTO Melonjak 544%

Selain pendapatan, GOTO juga mencatat peningkatan signifikan pada indikator profitabilitas.

EBITDA Grup yang disesuaikan mencapai sekitar Rp2 triliun sepanjang 2025, melonjak 544% dibandingkan tahun sebelumnya.

Kinerja ini bahkan melampaui target perusahaan yang sebelumnya berada di kisaran Rp1,8 triliun hingga Rp1,9 triliun.

Kerugian GOTO Menyusut Drastis

Meski masih mencatat kerugian, rugi bersih GOTO berhasil ditekan secara signifikan.

Kerugian tahun berjalan tercatat sebesar Rp1,50 triliun, jauh lebih rendah dibandingkan 2024 yang mencapai Rp5,46 triliun.Sementara itu, kerugian yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga menyusut menjadi Rp1,18 triliun, dari sebelumnya Rp5,15 triliun pada tahun sebelumnya.

Perbaikan ini menunjukkan upaya perusahaan dalam meningkatkan efisiensi operasional dan memperbaiki struktur biaya.

Arus Kas Mulai Positif

GOTO juga mulai mencatat perkembangan positif dari sisi arus kas.

Pada kuartal IV 2025, perusahaan mencatat arus kas bebas yang disesuaikan sebesar Rp748 miliar, sementara untuk sepanjang tahun mencapai sekitar Rp966 miliar.

Dari sisi bisnis e-commerce, unit Tokopedia juga memberikan kontribusi pendapatan layanan.

Imbalan jasa e-commerce dari Tokopedia mencapai Rp193 miliar pada kuartal IV 2025, atau sekitar Rp820 miliar untuk sepanjang tahun.

Prospek GOTO 2026

Manajemen GOTO memperkirakan kinerja perusahaan akan terus membaik pada 2026, seiring penguatan ekosistem digital yang dimiliki perusahaan.

Perseroan menargetkan pertumbuhan bisnis dan peningkatan profitabilitas dengan memanfaatkan sinergi antar layanan dalam ekosistem GOTO.

Untuk tahun penuh 2026, perusahaan memproyeksikan:

  • EBITDA Grup yang disesuaikan: Rp3,2 triliun – Rp3,4 triliun
  • EBITDA unit Financial Technology: Rp1,4 triliun – Rp1,5 triliun
  • EBITDA unit On-Demand Services: Rp1,7 triliun – Rp1,8 triliun

Menurut manajemen, proyeksi tersebut masih bergantung pada berbagai faktor eksternal seperti kondisi ekonomi makro, tingkat persaingan industri teknologi, serta inflasi biaya operasional.

Strategi Pertumbuhan Ekosistem Digital

Ke depan, GOTO akan terus berinvestasi untuk memperkuat kapabilitas teknologi dan ekosistem digitalnya.

Perusahaan berfokus pada pengembangan layanan yang dapat memberikan solusi atas kebutuhan sehari-hari pengguna, mulai dari mobilitas, pembayaran digital, hingga perdagangan online.

Dengan strategi tersebut, GOTO berharap dapat mempercepat pertumbuhan pengguna sekaligus meningkatkan profitabilitas bisnis di masa mendatang.