Laba ADRO Anjlok 67,5% pada 2025, Emiten Batu Bara Boy Thohir Tertekan

Laba bersih ADRO milik Boy Thohir turun tajam 67,5% menjadi US$447 juta pada 2025. Penurunan kinerja ini terjadi di tengah melemahnya pendapatan serta meningkatnya beban operasional pada bisnis pertambangan batu bara.

Kinerja emiten tambang batu bara ADRO mengalami tekanan tajam sepanjang tahun buku 2025. Perusahaan mencatat laba bersih sebesar US$447 juta, turun sekitar 67,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Perusahaan yang dikendalikan oleh pengusaha Garibaldi Thohir ini menghadapi penurunan pendapatan serta peningkatan beban operasional pada bisnis pertambangan batu bara.

Penurunan kinerja tersebut juga terjadi di tengah fluktuasi harga komoditas energi global serta dinamika permintaan batu bara dari pasar ekspor Asia.

Pendapatan ADRO Turun pada 2025

Berdasarkan laporan keuangan terbaru, pendapatan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk sepanjang tahun 2025 tercatat sekitar US$1,87 miliar. Angka ini turun sekitar 10% secara tahunan (year-on-year) dibandingkan periode sebelumnya.

Di sisi lain, perusahaan mencatat kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 2,67% menjadi sekitar US$1,23 miliar.

Kenaikan biaya tersebut terutama berasal dari aktivitas pada lini bisnis utama perusahaan, yaitu:

  • pertambangan batu bara
  • jasa pertambangan

Kedua segmen ini masih menjadi penyumbang terbesar bagi kinerja operasional perusahaan.

Bisnis Tambang Masih Jadi Kontributor Utama

Sepanjang 2025, aktivitas pertambangan tetap menjadi mesin pendapatan utama perusahaan.

Rinciannya meliputi:

  • Pendapatan dari pertambangan batu bara sekitar US$968,8 juta
  • Pendapatan dari jasa pertambangan sekitar US$1 miliar

Namun laporan keuangan juga mencatat adanya bisnis yang dihentikan pada 2025. Pada tahun sebelumnya, segmen tersebut masih memberikan kontribusi laba sekitar US$918,6 juta.

Penghentian bisnis tersebut turut memengaruhi penurunan laba bersih perusahaan secara keseluruhan.

Pasar Domestik Mendominasi Penjualan

Dari sisi wilayah penjualan, pasar domestik masih menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan perusahaan.

Sekitar 64,5% dari total pendapatan, atau sekitar US$1,2 miliar, berasal dari pasar dalam negeri.

Sementara sisanya berasal dari ekspor ke beberapa negara tujuan utama, seperti:

  • Singapura
  • Korea Selatan
  • India
  • China
  • Jepang

Permintaan dari negara-negara tersebut masih menjadi faktor penting bagi stabilitas industri batu bara Indonesia.

ADRO Masih Memiliki Kontrak Tambang Jangka Panjang

Meski laba bersih mengalami tekanan, perusahaan masih memiliki sejumlah kontrak tambang jangka panjang melalui entitas terkait.

Beberapa kontrak tersebut berasal dari perusahaan afiliasi seperti:

  • PT Adaro International
  • PT Semesta Centramas
  • PT Paramitha Cipta Sarana
  • PT Adaro Logistics

Durasi kontrak berkisar antara 10 hingga 33 tahun dengan cakupan pekerjaan meliputi:

  • penyewaan alat berat
  • pengupasan tanah tambang (stripping)
  • operasi pertambangan batu bara
  • jasa transportasi bahan bakar

Kontrak jangka panjang tersebut menjadi salah satu faktor yang menjaga keberlanjutan operasional perusahaan.

Struktur Kepemilikan Saham

Hingga akhir Januari 2026, struktur kepemilikan saham perusahaan masih didominasi pemegang saham pengendali.

PT Adaro Strategic tercatat menguasai sekitar 47,79% saham perusahaan.

Sementara beberapa pemegang saham lainnya meliputi:

  • investor afiliasi perusahaan sekitar 10,91%
  • Garibaldi Thohir sekitar 6,72%
  • Edwin Soeryadjaya sekitar 3,57%
  • Arini Saraswaty Subianto sekitar 0,27%

Penurunan Laba Jadi Sorotan Investor

Penurunan laba yang cukup tajam ini menjadi perhatian bagi investor yang memantau kinerja emiten sektor energi di Bursa Efek Indonesia.

Kinerja perusahaan tambang umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, seperti:

  • harga batu bara global
  • biaya operasional pertambangan
  • permintaan energi dari negara tujuan ekspor

Perubahan pada faktor-faktor tersebut dapat berdampak signifikan terhadap profitabilitas perusahaan tambang di masa mendatang.