Pergerakan saham CBDK kembali menjadi sorotan pasar setelah pengembang properti Agung Sedayu melepas sebagian kepemilikannya di PT Bangun Kosambi Sukses Tbk. Aksi penjualan saham tersebut terjadi di tengah kondisi perusahaan yang justru mencatatkan kinerja keuangan CBDK yang cukup kuat sepanjang tahun 2025.
Langkah ini memunculkan berbagai pertanyaan di kalangan investor mengenai prospek saham CBDK, terutama setelah harga saham perusahaan mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir meskipun laba bersih meningkat signifikan.
Agung Sedayu Jual Puluhan Juta Saham CBDK
Berdasarkan data transaksi di pasar saham, Agung Sedayu yang dimiliki pengusaha Sugianto Kusuma atau Aguan tercatat melakukan penjualan saham CBDK dalam beberapa tahap pada akhir Februari hingga awal Maret 2026.
Secara keseluruhan, Agung Sedayu melepas sekitar 52.930.020 saham CBDK melalui tiga transaksi terpisah.
Rinciannya sebagai berikut:
- 27 Februari 2026: penjualan 12.600.020 saham pada harga Rp5.300 per saham
- 3 Maret 2026: penjualan 35.680.000 saham pada harga Rp5.350 per saham
- 5 Maret 2026: penjualan 4.650.000 saham pada harga Rp5.200 per saham
Dari seluruh transaksi tersebut, nilai penjualan saham diperkirakan mencapai sekitar Rp281,84 miliar.
Aksi ini membuat kepemilikan saham CBDK oleh Agung Sedayu turun cukup signifikan. Sebelum transaksi dilakukan, perusahaan tercatat memiliki 77.519.380 saham atau sekitar 1,37 persen hak suara. Setelah penjualan, kepemilikannya tersisa sekitar 24.589.360 saham atau 0,43 persen.
Langkah ini memicu perhatian pelaku pasar karena aksi jual oleh pemegang saham besar sering kali memengaruhi sentimen terhadap harga saham CBDK.
Harga Saham CBDK Mengalami Tekanan
Di tengah aksi pelepasan saham tersebut, harga saham CBDK mengalami pelemahan di pasar.
Pada perdagangan terakhir Jumat, 6 Maret 2026, saham perusahaan ditutup di level Rp5.000 per saham, turun sekitar 1,48 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Jika dilihat dalam periode lebih panjang, saham CBDK turun cukup dalam dalam beberapa bulan terakhir. Dalam satu bulan terakhir saja, harga saham tercatat turun sekitar 950 poin atau hampir 16 persen.
Sementara itu, secara year-to-date, saham perusahaan telah mengalami koreksi sekitar 41 persen.
Kondisi ini membuat sebagian investor mulai melakukan analisis saham CBDK untuk memahami apakah penurunan harga tersebut dipengaruhi oleh kondisi fundamental perusahaan atau sekadar sentimen pasar.
Kinerja Keuangan CBDK Justru Bertumbuh
Menariknya, di tengah tekanan pada harga saham, perusahaan justru melaporkan laba bersih CBDK yang meningkat signifikan.
Dalam laporan keuangan tahun buku 2025, perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp1,36 triliun, naik sekitar 47,53 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp924,75 miliar.
Pertumbuhan tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan perusahaan properti yang mencapai Rp2,5 triliun pada 2025, naik sekitar 11,32 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebagian besar pendapatan berasal dari segmen real estat yang menyumbang sekitar Rp2,46 triliun, sementara segmen konvensi memberikan kontribusi sekitar Rp39,39 miliar.
Dari sisi operasional, perusahaan juga mencatat perbaikan pada efisiensi biaya. Beban pokok pendapatan tercatat turun menjadi Rp850,03 miliar, dibandingkan Rp976,57 miliar pada tahun sebelumnya.
Penurunan biaya ini membuat laba kotor perusahaan meningkat hampir 30 persen menjadi sekitar Rp1,65 triliun.
Laba Per Saham dan Aset Perusahaan Meningkat
Pertumbuhan laba juga tercermin pada peningkatan laba per saham CBDK yang mencapai Rp241,45 per saham, naik dibandingkan Rp181,25 pada tahun sebelumnya.
Selain itu, neraca perusahaan juga menunjukkan penguatan.
Beberapa indikator keuangan penting antara lain:
- Total aset: Rp22,57 triliun
- Ekuitas: Rp11,98 triliun
- Liabilitas: Rp10,59 triliun
Ekuitas perusahaan bahkan tercatat meningkat hampir 44 persen secara tahunan, sementara liabilitas mengalami penurunan sekitar 11 persen.
Data ini menunjukkan bahwa secara fundamental, kinerja keuangan emiten properti CBDK masih berada dalam kondisi yang cukup solid.
Marketing Sales Properti Masih Stabil
Selain laporan laba, perusahaan juga mencatat capaian marketing sales properti yang cukup baik sepanjang 2025.
Total pra penjualan properti (marketing sales) tercatat mencapai sekitar Rp430 miliar, atau sekitar 85 persen dari target tahunan perusahaan.
Kontributor terbesar berasal dari penjualan kaveling tanah komersial yang mencapai sekitar Rp343 miliar, atau sekitar 80 persen dari total pra-penjualan.
Sementara itu:
- Produk komersial menyumbang sekitar Rp83 miliar
- Segmen residensial sekitar Rp4 miliar
Pada kuartal IV 2025, pra-penjualan properti bahkan meningkat cukup signifikan menjadi sekitar Rp109 miliar, naik lebih dari 300 persen dibanding kuartal sebelumnya.
Apa Dampaknya bagi Prospek Saham CBDK?
Dengan kondisi tersebut, pasar kini mencoba menilai kembali prospek saham CBDK.
Di satu sisi, fundamental perusahaan menunjukkan pertumbuhan yang positif, baik dari sisi laba bersih, pendapatan, maupun ekuitas perusahaan.
Namun di sisi lain, aksi penjualan saham oleh pemegang saham besar dapat memicu kekhawatiran investor dan memengaruhi sentimen pasar dalam jangka pendek.
Karena itu, sebagian pelaku pasar kini mulai melakukan analisis saham CBDK lebih dalam untuk menilai apakah koreksi harga saat ini mencerminkan peluang investasi atau justru sinyal risiko.
Pergerakan saham CBDK ke depan kemungkinan akan dipengaruhi oleh beberapa faktor penting, seperti kondisi sektor properti, kinerja keuangan perusahaan berikutnya, serta sentimen investor terhadap emiten properti di Bursa Efek Indonesia.

