Arus modal internasional kembali mengalir deras ke pasar modal Indonesia pada perdagangan Rabu (4/3/2026). Setelah sebelumnya sempat mencatatkan tekanan jual, kini sejumlah saham incaran asing mencatatkan volume akumulasi yang signifikan, menandakan adanya pergeseran minat terhadap aset berisiko di pasar berkembang.
Berdasarkan data harian dari Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) sebesar 849,77 juta lembar saham. Kondisi ini berbalik arah secara tajam dibandingkan sesi Selasa (3/3) yang mencatatkan penjualan bersih (net sell) 385,32 juta lembar. Lonjakan ini didorong oleh kenaikan volume foreign buy yang menyentuh angka 10,22 miliar lembar.
Akumulasi Masif pada Saham Incaran Asing Sektor Energi
Sektor energi, khususnya batu bara dan infrastruktur pendukungnya, terpantau menjadi primadona dalam strategi investasi jangka panjang terbaik bagi pemodal mancanegara. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menempati posisi teratas sebagai emiten yang paling banyak diborong. Dari sudut pandang observasi pasar, akumulasi pada BUMI mencapai net buy 498,41 juta lembar meski harga sahamnya terkoreksi teknis ke level Rp234.
Selain BUMI, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga masuk dalam daftar saham incaran asing dengan mencatat kinerja arus transaksi positif sebesar 143,99 juta lembar. Fenomena ini menunjukkan bahwa pelaku pasar internasional masih melihat potensi pada valuasi historis sektor komoditas Indonesia di tengah volatilitas pasar energi dunia.
Daftar Saham Inceran Asing
| Kode Emiten | Nama Perusahaan | Net Buy (Juta Lembar) |
| BUMI | Bumi Resources Tbk | 498,41 |
| DEWA | Darma Henwa Tbk | 143,99 |
| INET | Sinergi Inti Andalan Prima Tbk | 80,90 |
| PADI | Minna Padi Investama Sekuritas Tbk | 77,07 |
| BULL | Buana Lintas Lautan Tbk | 69,21 |
Tekanan Jual di Sektor Teknologi dan Perbankan Blue Chip
Berbeda dengan sektor energi, beberapa saham berkapitalisasi pasar besar justru mengalami tekanan distribusi. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) memimpin daftar net sell dengan pelepasan aset oleh asing sebesar 285,54 juta lembar. Tingginya volatilitas pasar pada saham sektor teknologi sering kali dipicu oleh penyesuaian portofolio institusi global terhadap sentimen suku bunga.
Saham blue chip perbankan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), juga tercatat keluar dari daftar saham incaran asing sementara dengan aksi jual bersih sebesar 83,12 juta lembar. Fenomena ini lazim dianggap sebagai bagian dari manajemen risiko investasi atau profit taking periodik oleh manajer aset internasional guna melakukan penyeimbangan bobot indeks (rebalancing).
Tabel Top Sell Asing (4 Maret 2026)
| Kode Emiten | Nama Perusahaan | Net Sell (Juta Lembar) |
| GOTO | GoTo Gojek Tokopedia Tbk | 285,54 |
| BBCA | Bank Central Asia Tbk | 83,12 |
| HUMI | Humpuss Maritim Internasional Tbk | 82,63 |
| GTSI | GTS Internasional Tbk | 68,76 |
| IATA | MNC Energy Investments Tbk | 66,60 |
Prospek Makro-ekonomi dan Sentimen Pasar ke Depan
Pembalikan arus transaksi menjadi net buy yang signifikan ini memberikan sinyal positif terhadap resiliensi pasar domestik. Beberapa analis menilai bahwa pergerakan ini merupakan respon pasar terhadap stabilnya kebijakan moneter dan indikator inflasi yang terkendali di dalam negeri. Secara historis, masuknya modal asing ke emiten lapis kedua sering kali menjadi awal dari penguatan IHSG yang lebih luas.
Bagi pelaku pasar, mencermati pergerakan saham potensial jangka menengah yang sedang menjadi saham incaran asing dapat menjadi salah satu indikator dalam menyusun strategi masuk. Namun, sikap wait and see tetap disarankan mengingat pengaruh faktor eksternal seperti fluktuasi harga komoditas global dan ketegangan geopolitik masih membayangi arah pergerakan indeks di sisa kuartal pertama 2026 ini.

