PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge secara resmi mengumumkan langkah strategis berupa revisi penggunaan dana hasil Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue. Langkah ini diambil guna mempercepat implementasi proyek Fixed Wireless Access (FWA) yang dikenal dengan brand Internet Rakyat (IRA). Berdasarkan keterbukaan informasi pada Selasa (3/3), manajemen memutuskan untuk memprioritaskan proyek ini demi mengoptimalkan kinerja keuangan dan memperkuat arus kas operasional Perseroan.
Langkah korporasi ini menandai pergeseran fokus dari pembangunan jaringan Fiber to the Home (FTTH) yang dinilai memiliki skala pengembangan yang lebih masif dan memakan waktu lebih lama. Dalam konteks prospek industri 2026, keputusan WIFI ini dipandang sebagai upaya taktis untuk menangkap peluang pasar penyediaan internet terjangkau melalui spektrum 1,4 GHz yang memiliki penetrasi luas dengan biaya infrastruktur yang lebih efisien.
Detail Alokasi Dana Strategis untuk Proyek FWA
Dana sebesar Rp5,89 triliun dari hasil rights issue bulan Juli lalu akan dialihkan melalui PT Jaringan Infra Andalan (JIA) untuk kemudian disetorkan sebagai modal kepada PT Telemedia Komunikasi Pratama (TKP). TKP merupakan entitas yang memegang peranan krusial sebagai penyelenggara proyek 5G FWA.
Berikut adalah rincian rencana penggunaan dana yang telah ditetapkan oleh manajemen:
| Peruntukan Dana | Estimasi Nilai | Periode Penggunaan |
| Pengadaan Perangkat CPE & RAN | Rp5,1 Triliun | Hingga Kuartal 4 – 2027 |
| Biaya IPFR Tahunan Spektrum 1,4 GHz | Rp403,8 Miliar | Hingga Kuartal 4 – 2026 |
| Modal Kerja Proyek FWA | Rp421 Miliar | Hingga Kuartal 4 – 2026 |
Secara operasional, pengadaan perangkat Customer Premises Equipment (CPE) dan Radio Access Network (RAN) akan dilakukan secara bertahap. Hal ini mencerminkan manajemen risiko investasi yang terukur agar penyerapan modal sejalan dengan progres pertumbuhan pengguna di lapangan.
Analisis Strategi Ekspansi Bisnis dan Arus Kas
Dari sudut pandang observasi pasar, prioritas terhadap program Internet Rakyat (IRA) ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pendapatan yang lebih instan bagi Perseroan. Proyek FWA memiliki karakteristik deployment yang lebih cepat dibandingkan penarikan kabel fiber optik ke rumah-rumah. Hal ini menjadi alasan utama manajemen dalam melakukan optimalisasi strategi ekspansi bisnis di tahun 2026.
Pihak manajemen menjelaskan bahwa dalam jangka menengah dan panjang, proyek FWA berpotensi memperkuat struktur keuangan konsolidasian. Dengan arus kas yang lebih stabil, kapasitas Perseroan dalam melakukan ekspansi di masa depan akan semakin terbuka lebar. Kendati demikian, rencana perubahan penggunaan dana ini masih memerlukan persetujuan dari para pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 8 April 2026.
Kolaborasi Global dan Respon Pasar
Di tingkat global, WIFI terus memperkuat ekosistem teknologinya. Melalui gelaran Mobile World Congress 2026 di Barcelona, Perseroan dilaporkan telah menjajaki kolaborasi strategis dengan vendor global seperti FiberHome dan Baicells. Kemitraan ini bertujuan untuk memastikan keandalan infrastruktur 5G FWA yang tengah dikembangkan.
Hingga penutupan perdagangan terkini, harga saham WIFI berada di level Rp2.270, mengalami fluktuasi sebesar -3,40%. Investor biasanya mempertimbangkan rilis data keuangan dan kepastian persetujuan RUPSLB sebagai indikator penggerak harga di pasar sekunder. Secara teknikal, pergerakan harga saham masih merespons dinamika sentimen domestik terkait realisasi belanja modal (CapEx) perusahaan.
Meskipun terdapat perubahan alokasi dana, manajemen menegaskan bahwa hal tersebut tidak akan memberikan dampak negatif terhadap liabilitas atau total aset Perseroan saat ini. Fokus pada efisiensi operasional justru menjadi nilai tambah yang dicermati oleh pelaku pasar dalam melihat fundamental jangka panjang emiten teknologi infrastruktur ini.

