IHSG Ambles di Tengah Perang yang Kian Sengit

IHSG jatuh 1,6% ke level 8.103 pada sesi I, Senin (2/3/2026) akibat eskalasi konflik Timur Tengah yang mengancam stabilitas energi global. Meskipun manufaktur Indonesia masih ekspansif, tekanan inflasi dan beban subsidi BBM menjadi sorotan utama pelaku pasar saat ini.

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi signifikan sebesar 131,76 poin atau melemah 1,6% ke posisi 8.103,71 pada penutupan sesi I, Senin (2/3/2026). Pergerakan ini sejalan dengan tren negatif yang melanda mayoritas indeks saham di kawasan Asia, menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas rantai pasok energi global.

Analisis Penurunan IHSG Awal Maret 2026

Penurunan IHSG pada perdagangan hari ini dipicu oleh eskalasi konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran di akhir pekan lalu. Kondisi ini menyebabkan penutupan jalur perdagangan strategis di Selat Hormuz, yang secara historis merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dunia. Pasar merespons negatif potensi gangguan pasokan energi yang dapat berimplikasi pada kenaikan biaya logistik global dan tekanan inflasi impor.

Berdasarkan pengamatan pasar, ketidakpastian ini memicu aliran modal keluar (capital outflow) jangka pendek sebagai bentuk langkah antisipasi investor terhadap risiko volatilitas. Sentimen global yang tidak menentu biasanya mendorong pelaku pasar untuk beralih ke aset yang dinilai lebih aman (safe haven), sembari memantau perkembangan kebijakan moneter domestik dalam merespons gejolak nilai tukar dan harga komoditas.

Dampak Eskalasi Konflik Global terhadap Pasar Domestik

Kekhawatiran utama investor domestik saat ini tertuju pada beban fiskal negara, terutama potensi lonjakan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik seringkali berdampak langsung pada postur APBN. Jika harga energi tetap tinggi dalam waktu lama, efisiensi operasional emiten di sektor manufaktur dan transportasi berisiko terganggu, yang pada akhirnya mempengaruhi valuasi saham secara sektoral.

Meskipun tekanan eksternal cukup kuat, indikator fundamental ekonomi nasional dilaporkan masih berada di jalur ekspansif. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari S&P Global mencatatkan angka 53,8 pada Februari 2026, naik dari posisi 52,6 di bulan sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas produksi di sektor riil masih memiliki daya tahan tinggi di tengah tekanan makroekonomi global.

Data Manufaktur dan Inflasi Indonesia Februari 2026

Sisi lain dari laporan ekonomi domestik menunjukkan neraca perdagangan Indonesia per Januari 2026 tetap mencatatkan surplus sebesar US$960 juta. Meski angka ini mengalami penurunan dibandingkan surplus bulan sebelumnya sebesar US$2,51 miliar, keberlanjutan surplus ini memberikan bantalan bagi cadangan devisa. Di sisi inflasi, data Februari 2026 menunjukkan kenaikan 4,76% secara tahunan (YoY), yang mencerminkan tekanan harga di tingkat konsumen masih berada di atas target sasaran Bank Indonesia.

Kondisi inflasi yang melampaui rentang target 2,5% ± 1% menuntut kewaspadaan dari otoritas moneter. Pelaku pasar cenderung mencermati apakah Bank Indonesia akan melakukan penyesuaian suku bunga acuan guna menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan ekspektasi inflasi ke depan. Dinamika inilah yang membuat pergerakan IHSG cenderung fluktuatif di rentang support kritis.

Pergerakan Emiten dan Respon Sektoral

Di tengah koreksi indeks secara keseluruhan, beberapa emiten di sektor energi justru mencatatkan performa positif akibat spekulasi kenaikan harga komoditas. Saham-saham seperti ENRG dan COAL terpantau mengalami penguatan di saat mayoritas saham blue chip mengalami tekanan jual. Di sisi lain, saham di sektor konsumer dan perbankan terlihat lebih sensitif terhadap tekanan inflasi dan risiko suku bunga.

Secara teknikal, pergerakan harga saham tertentu seperti ANTM mulai menarik perhatian analis untuk diperhatikan area support dan resistance-nya di kisaran 4.400 hingga 4.760. Namun, investor tetap disarankan untuk mempertimbangkan manajemen risiko yang ketat mengingat volatilitas pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh berita-berita geopolitik yang berkembang secara dinamis dari waktu ke waktu.