4 Saham Pilihan Asing Saat IHSG Anjlok, Peluang di Balik Koreksi?

Kondisi pasar modal Indonesia pada perdagangan Selasa, 24 Februari 2026, memperlihatkan fenomena yang cukup kontras bagi para pelaku pasar. Di tengah situasi indeks harga saham gabungan atau IHSG anjlok sebesar 1,37 persen ke level 8.280,8, arus modal asing justru terpantau masuk secara selektif pada saham-saham tertentu. Dari sudut pandang observasi pasar, fenomena ini menunjukkan adanya perbedaan strategi antara investor domestik dan mancanegara dalam menyikapi volatilitas yang sedang terjadi di lantai bursa.

Berdasarkan data resmi dari Bursa Efek Indonesia, investor asing mencatatkan nilai beli bersih atau net buy yang cukup signifikan mencapai Rp 1,37 triliun di seluruh pasar. Angka ini menjadi perhatian khusus karena terjadi saat mayoritas harga saham sedang mengalami tekanan jual yang hebat. Secara historis, akumulasi beli saat pasar sedang terkoreksi sering kali dipandang sebagai langkah penyeimbangan portofolio oleh institusi besar, terutama pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar jumbo yang memiliki fundamental kokoh.

Dalam pergerakan pasar kali ini, saham perbankan dan infrastruktur telekomunikasi menjadi magnet utama bagi modal internasional. Data menunjukkan bahwa minat terhadap aset blue chip tetap tinggi meski indeks secara keseluruhan berada di zona merah. Strategi buy on weakness ini tampaknya masih menjadi pilihan utama bagi manajer investasi asing untuk mengamankan posisi pada emiten dengan tingkat likuiditas yang tinggi.

Berikut adalah rincian data emiten yang paling banyak dikoleksi oleh investor asing (Top Net Buy) saat bursa mengalami tekanan:

Nama Emiten (Kode Saham)Nilai Beli Bersih (Net Buy)Sektor Industri
Bank Mandiri (BMRI)Rp 577,8 MiliarKeuangan / Perbankan
Telkom Indonesia (TLKM)Rp 212,8 MiliarInfrastruktur / Telco
Astra International (ASII)Rp 142,9 MiliarPerindustrian / Holding
Bank Rakyat Indonesia (BBRI)Rp 114,6 MiliarKeuangan / Perbankan

Analisis kami menunjukkan bahwa sektor keuangan menjadi satu-satunya zona hijau yang mampu menguat sebesar 1 persen di saat sektor lain berguguran. Sektor energi dan barang konsumen primer menjadi beban terberat bagi indeks dengan pelemahan masing-masing di atas 3 persen. Meskipun IHSG anjlok cukup dalam, perlawanan dari sektor perbankan memberikan gambaran bahwa kepercayaan investor terhadap stabilitas sistem keuangan nasional masih terjaga dengan baik di mata pelaku pasar internasional.

Beberapa analis menilai bahwa kenaikan harga pada saham-saham lapis ketiga yang melonjak di atas 24 persen merupakan fenomena spekulatif yang sering terjadi saat pasar mencari titik jenuh jual. Namun, investor biasanya mempertimbangkan profil risiko yang lebih tinggi pada saham dengan volatilitas ekstrem seperti itu. Di sisi lain, akumulasi asing pada saham seperti BMRI dan TLKM memberikan sinyal bahwa fundamental perusahaan besar tetap menjadi jangkar utama bagi pasar modal Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Secara keseluruhan, total nilai transaksi yang mencapai Rp 29,1 triliun menunjukkan likuiditas pasar yang masih sangat cair. Dinamika di mana asing tetap melakukan akumulasi pada saham-saham penggerak indeks di tengah koreksi dalam memberikan perspektif bahwa nilai intrinsik perusahaan besar masih dianggap menarik untuk jangka panjang. Kami memandang bahwa pemantauan terhadap arus dana asing atau flow analysis tetap menjadi salah satu parameter penting bagi investor dalam mengambil keputusan investasi yang lebih terukur di masa depan.